Oleh: Dr. Jalaludin Salampessy
Konflik yang kembali mencuat di kawasan Gunung Botak menjadi pengingat penting bagi semua pihak akan nilai kedamaian dan kebersamaan yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat Maluku, khususnya pulau Buru. Di tengah dinamika yang terjadi, situasi ini membutuhkan sikap tenang, kepala dingin, dan komitmen bersama untuk tidak saling menyalahkan.
Gunung Botak bukan sekadar wilayah tambang, tetapi juga ruang hidup yang menyimpan nilai sejarah, sosial, dan budaya bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu, setiap persoalan yang muncul seharusnya disikapi dengan penuh kehati-hatian dan rasa tanggung jawab bersama.
Tokoh masyarakat dan pemangku adat mengingatkan bahwa jalan keluar terbaik tidak lahir dari emosi atau tindakan sepihak, melainkan dari dialog yang jujur dan bermartabat. Kearifan lokal Kai Wait, yang mengajarkan tentang persaudaraan, saling menghormati, dan penyelesaian masalah secara adat, menjadi fondasi penting dalam meredakan ketegangan yang ada.
Saat ini adalah waktu yang tepat bagi semua pihak—masyarakat, pemerintah, dan aparat terkait—untuk menahan diri, membuka ruang komunikasi, serta mengutamakan musyawarah. Dengan menjunjung nilai-nilai lokal dan semangat kebersamaan, konflik yang terjadi diharapkan dapat diselesaikan secara damai dan berkelanjutan.
Kedamaian adalah warisan bersama. Menjaganya berarti merawat masa depan Maluku agar tetap aman, harmonis, dan bermartabat.(Ruly)