Sejak tahun 1987, jejak kaki Abdullah Vanath dan Ny. Ani Vanath menapaki lorong-lorong pengetahuan di SMA Aliyah Masohi. Waktu itu, keduanya adalah seorang pemuda dan wanita penuh semangat, menimba ilmu di bawah bimbingan guru yang sabar dan penuh dedikasi, Jakaria Gay. Puluhan tahun telah berlalu. Dunia berubah, wajah kota berganti, dan Abdullah kini duduk di kursi Wakil Gubernur Maluku, setelah 10 tahun menjadi Bupati SBT, dan istrinya Ny. Ani Vanath juga menjadi anggota DPR RI dari partai PKB Dapil Maluku selama satu periode. Namun, jabatan yang megah dan rutinitas yang padat tidak mampu meredupkan satu kenangan yang paling berharga: guru yang membentuk langkah awalnya.
Abdullah Vanath bersama istrinya, Ny. Ani Vanath, menempuh perjalanan ke desa Waimangit, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru. Sebuah desa yang jauh dari hingar-bingar pusat kota, di mana kehidupan berjalan dengan ritme yang tenang, namun menyimpan kehangatan yang tak tergantikan. Di sanalah, di rumah sederhana yang masih memelihara kenangan masa lalu, mereka bertemu dengan Jakaria Gay.
Pertemuan itu lebih dari sekadar silaturahmi. Mata Abdullah menyiratkan rasa hormat dan hormat yang tak pernah luntur, meski waktu telah berjalan lebih dari tiga dekade. Sementara Ny. Ani Vanath, dengan senyum tulusnya, ikut merasakan kehangatan yang sama, menyaksikan sang suami bertemu sosok yang pernah membentuk karakter mereka berdua.
Waktu boleh berubah, jabatan boleh menuntut kesibukan, tetapi kenangan dan rasa hormat tidak bisa diukur dengan pangkat atau posisi. Abdullah Vanath dan istrinya membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati adalah yang tetap ingat asal-usulnya, yang tahu menghargai mereka yang membimbingnya saat langkahnya pertama kali menapak dunia.
Di desa Waimangit itu, di antara senyum dan tawa sederhana, terpatri sebuah pesan abadi: hormatilah guru, karena mereka adalah cahaya yang menuntun kita dari gelap menuju terang, dan tak ada titel atau kekayaan yang mampu menggantikan kenangan tentang guru yang bijak.(Syam)