Oleh: R. Boy Sangadji, Ketua DEPIDER SOSKI Maluku
Allah SWT mengingatkan orang-orang beriman dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9 agar, ketika panggilan salat Jumat dikumandangkan, kita segera bersegera menuju zikir kepada-Nya dan meninggalkan jual beli. Seruan ini bukan sekadar perintah ritual, melainkan pendidikan ruhani agar manusia mampu menata skala prioritas hidupnya.
Dalam realitas keseharian, kita sering larut dalam kesibukan dunia: pekerjaan, transaksi, target, dan ambisi. Semua itu halal dan penting. Namun, ayat ini menegaskan satu titik henti—sebuah jeda suci—agar manusia kembali mengingat siapa pemilik waktu, rezeki, dan kehidupan itu sendiri. Saat azan Jumat berkumandang, Allah mengajak kita menanggalkan sejenak urusan dunia untuk menguatkan hubungan dengan-Nya.
“Meninggalkan jual beli” adalah simbol. Ia melambangkan keberanian menomorsatukan nilai spiritual di atas kepentingan material. Inilah latihan keimanan: percaya bahwa rezeki tidak akan tertukar hanya karena kita memenuhi panggilan salat. Justru, keberkahan hadir ketika ketaatan didahulukan.
Renungan ini relevan bagi kehidupan sosial kita. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual. Salat Jumat menyatukan, menenangkan, dan mengingatkan kita akan tanggung jawab sebagai hamba dan sebagai sesama manusia.
Allah menutup ayat ini dengan kalimat, “yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Artinya, kebaikan sejati sering kali menuntut kesadaran dan kebijaksanaan untuk memilih. Semoga setiap langkah kita menuju masjid di hari Jumat menjadi bukti bahwa panggilan langit selalu lebih utama daripada gemerlap dunia.(CS)