Oleh: Muhamad Daniel Rigan
APBD bukan sekadar angka dalam dokumen anggaran. Ia adalah cermin niat, arah, dan keberanian sebuah daerah dalam mengelola masa depannya. Karena itu, pengguna APBD sejatinya tidak cukup hanya menjadi pengelola. Mereka dituntut untuk bertransformasi menjadi pencipta.
Sesungguhnya, tugas pejabat daerah tidaklah seberat yang sering dibayangkan. Negara telah menyediakan perangkat yang nyaris lengkap: sumber daya manusia, kekayaan alam, fasilitas, operasional, gaji, hingga tunjangan dan kehormatan jabatan. Semua sudah ada. Yang kerap terasa berat bukanlah kekurangannya, melainkan niat—yang harus ditopang oleh rasa tanggung jawab besar dan profesionalisme yang utuh.
Ketika anggaran daerah terasa sempit karena berbagai penyesuaian, jalan keluarnya bukan sekadar mengeluh. Profesional sejati dilatih untuk menciptakan peluang, bukan hanya membelanjakan uang atau menambah utang. Mengandalkan utang tanpa strategi hanyalah kerja kasir, bukan kerja pemimpin.
Utang tentu boleh, sepanjang terukur dan diarahkan untuk menjaga arus kas. Namun utang jangka panjang untuk pembangunan yang tidak menggerakkan ekonomi daerah justru berbahaya. Pasak tidak boleh lebih besar daripada tiang, karena beban angsuran di masa depan bisa menjadi jerat yang melemahkan.
Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap dinamika global. Menguatnya dolar hari ini akan memberi dampak nyata bagi APBD dua hingga tiga tahun ke depan. Dalam situasi seperti ini, negara akan memprioritaskan sumber dayanya untuk fungsi-fungsi vital demi menjaga stabilitas. Artinya, setiap daerah harus mulai menyiapkan kemandirian ekonomi, sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi perang ekonomi global yang kian memanas dan perlahan mulai kita rasakan dampaknya.
Beberapa negara bahkan telah melatih warganya untuk bertahan hidup tanpa internet dan BBM selama beberapa hari. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai wujud kewaspadaan. Pesannya jelas: ketahanan tidak lahir dari kelimpahan semata, tetapi dari kesiapan dan daya cipta.
Harapannya sederhana namun mendalam: semoga daerah kita tumbuh menjadi kuat, mandiri, produktif, dan profesional dalam mengelola sumber daya. Semoga ekonomi rakyat benar-benar menjadi pilar utama negeri ini—bukan pelengkap, apalagi korban keadaan.
Karena pada akhirnya,
para pengguna selalu berkata kurang,
sementara para pencipta peluang hadir untuk melayani kekurangan itu.