Editorial Oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF
Kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi kembali menemukan momentumnya. Penandatanganan kerja sama antara PT Global Emas Bupolo dan Universitas Pattimura bukan sekadar seremoni institusional, melainkan pernyataan sikap yang tegas: bahwa pembangunan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan harus berjalan beriringan.
Berlatar di kampus Universitas Pattimura, Ambon, kesepahaman ini menandai babak penting dalam penanganan tailing di Kali Anhoni, Kabupaten Buru—sebuah isu yang tidak sederhana. Tailing, sebagai sedimen atau limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), menuntut kehati-hatian ekstra. Ia bukan hanya persoalan teknis pertambangan, tetapi juga menyangkut ekosistem sungai, kualitas hidup masyarakat, serta keberlanjutan generasi mendatang.
Dalam konteks itulah kolaborasi ini menemukan urgensinya. PT Global Emas Bupolo menunjukkan kesadaran bahwa praktik pertambangan modern tidak lagi dapat berdiri semata pada kalkulasi produksi dan keuntungan. Ia harus ditopang oleh legitimasi ilmiah, kepatuhan regulasi, serta transparansi publik. Keterlibatan akademisi dari Universitas Pattimura menjadi fondasi penting untuk memastikan setiap tahapan—mulai dari pengangkatan hingga pengelolaan tailing—dilaksanakan secara terukur dan berbasis kajian ilmiah.
Di sisi lain, perguruan tinggi tidak boleh terkurung dalam menara gading. Peran Universitas Pattimura dalam kerja sama ini menegaskan fungsi tridarma yang sesungguhnya: penelitian yang aplikatif, pengabdian yang nyata, serta pendidikan yang kontekstual. Ketika dosen dan mahasiswa turun langsung mengkaji persoalan lingkungan di lapangan, ilmu pengetahuan menemukan relevansinya, dan masyarakat merasakan manfaatnya.
Kabupaten Buru adalah ruang hidup yang menyimpan potensi sekaligus tantangan. Kehadiran industri pertambangan membawa peluang ekonomi, namun juga konsekuensi ekologis. Maka, komitmen terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab bukan lagi pilihan, melainkan keharusan moral dan hukum. Sinergi ini menjadi pesan bahwa pembangunan tidak boleh meninggalkan jejak kerusakan, melainkan warisan keberlanjutan.
Editorial ini melihat kerja sama tersebut sebagai model kemitraan yang patut diapresiasi dan direplikasi. Ketika sektor industri membuka diri terhadap pengawasan dan pendampingan ilmiah, dan ketika kampus bersedia hadir sebagai mitra kritis sekaligus solutif, maka tata kelola lingkungan memperoleh pijakan yang lebih kokoh.
Penanganan tailing di Kali Anhoni memang pekerjaan teknis. Namun di atas itu semua, ia adalah ujian komitmen: apakah kita sungguh-sungguh menempatkan keselamatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas. Kolaborasi antara PT Global Emas Bupolo dan Universitas Pattimura memberi harapan bahwa jawabannya adalah ya—bahwa pembangunan dapat dijalankan dengan akal sehat, tanggung jawab, dan visi keberlanjutan yang melampaui kepentingan sesaat.