Oleh: Muz Latuconsina
Namlea, 17/2/2025, Di masa ketika Pulau Buru masih sunyi dan terluka oleh sejarah, saat ia masih menjadi kecamatan di bawah Kabupaten Maluku Tengah, berdirilah sebuah rumah makan pertama di pulau Buru yang kelak menjadi saksi bisu perjalanan manusia dan harapan.
Rumah itu adalah Rumah Makan Salipeni, milik Ny. Nafsia binti Raden Dacing Palembang, istri dari Raja Petuanan Kaiely, Raja Ishak Wael. Ny. Nafsia bukan sekadar nyonya rumah. Ia adalah ibu bagi banyak jiwa yang singgah—jiwa-jiwa yang datang dengan gosepa (rakit bambu) menyusuri Sungai Waiapo, membawa luka, rindu, dan hasil kebun di tangan mereka.
Rumah makan itu berdiri di Desa Namlea, di jantung Namlea, yang kala itu masih sederhana. Kini orang mengenalnya berada tepat di samping pasar Pujasera kota Namlea, tetap kokoh, seakan tak ingin menyerah pada waktu. Di belakang rumah itu terbentang laut biru yang luas. Ombaknya kecil, tapi cukup untuk mengantar rakit-rakit bambu merapat ke kaki air di belakang rumah sang raja.
Pada masa itu, Pulau Buru adalah tempat pembuangan para tahanan politik G30S PKI. Mereka datang bukan sebagai pelancong, melainkan sebagai manusia yang dipaksa sejarah untuk bertahan. Dari hulu Sungai Waiapo, mereka mengayuh rakit perlahan, menyusuri aliran air yang kadang tenang, kadang keruh oleh hujan. Saat tiba di Namlea, mereka menepi, menurunkan karung-karung berisi singkong, pisang, jagung, tebu, atau sayur dari kebun yang mereka olah dengan tangan sendiri.
Langkah mereka berat, tetapi mata mereka seringkali menyala ketika melihat rumah besar di tepi laut itu. Di situlah Salipeni berdiri.
Aroma kopi hangat dan ikan goreng menyambut siapa saja yang datang. Ny. Nafsia berdiri di beranda, dengan senyum yang tak pernah bertanya tentang masa lalu. Ia hanya melihat manusia, bukan cap atau tuduhan. Di dalam rumah yang sekaligus menjadi kediaman Raja Kaiely itu, percakapan mengalir pelan—tentang tanah, tentang keluarga yang jauh, tentang Indonesia yang mereka bayangkan suatu hari akan lebih adil.
Di antara para tapol yang pernah singgah, ada seorang sastrawan yang kelak dikenang dunia: Pramoedya Ananta Toer. Ia datang membawa hasil kebun seperti yang lain, tetapi di dalam dirinya ia membawa cerita-cerita besar. Di tempat sederhana itu, mungkin ia menatap laut Buru, mendengar desir angin, dan menyimpan dalam ingatan wajah-wajah orang yang tetap manusiawi di tengah tekanan zaman.
Di belakang rumah itu, ketika rakit-rakit berlabuh dan senja turun perlahan, para tapol duduk memandang laut. Cahaya matahari memantul di air, seolah berkata bahwa hidup, betapapun pahit, tetap menyimpan keindahan. Ny. Nafsia menyuguhkan hidangan tanpa banyak bicara, sementara Raja Ishak Wael menjaga agar rumahnya tetap menjadi ruang aman—sebuah ruang di mana manusia boleh bernapas tanpa rasa takut.
Rumah Makan Salipeni bukan sekadar tempat makan. Ia adalah simpul kemanusiaan di Pulau Buru. Di sanalah hasil kebun bertukar dengan senyum. Di sanalah cerita-cerita lahir, mungkin diam-diam menjadi bagian dari karya besar yang kelak dibaca dunia.
Hari ini, ketika orang berjalan di samping pujasera kota Namlea dan melihat rumah tua itu masih berdiri, mereka mungkin hanya melihat bangunan yang masih kokoh. Namun angin yang berembus dari belakangnya masih membawa gema dayung rakit bambu, suara percakapan pelan para tapol, dan langkah seorang sastrawan besar yang suatu sore menatap laut Buru sambil menyimpan cerita di dalam dadanya.
Pulau boleh sunyi. Sejarah boleh keras.
Tetapi di Salipeni, kediaman sang Raja Kaiely, kemanusiaan pernah menemukan rumahnya.