Oleh: Jafar Nurlatu, MA.
(Akademisi)
Di Pulau Buru yang kaya sejarah dan harapan, nama Hong Diyanto Fredy—yang akrab disapa Pa Tuya atau Ongko Tuya—menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. Ia bukan sekadar dikenal sebagai pengusaha. Lebih dari itu, ia adalah sosok nasionalis religius yang menempatkan kemanusiaan di atas segalanya, dan pengabdian di atas pujian.
Di usia yang matang, ketika banyak orang sibuk menghitung capaian dan mengumpulkan pengakuan, Pa Tuya justru memilih jalan sunyi: berbuat tanpa banyak bicara. Baginya, hidup bukan tentang seberapa besar harta yang ditinggalkan, melainkan seberapa luas manfaat yang diwariskan. Di tanah Buru yang ia cintai, ia ingin dikenang bukan karena kekayaan, tetapi karena kebaikan yang tumbuh dan terus hidup di hati masyarakat.
Sebagai WNI keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di lingkungan Muslim, Ongko Tuya adalah cerminan indah dari keberagaman Indonesia. Identitas tidak pernah menjadi sekat, melainkan jembatan. Nilai-nilai toleransi, kebersamaan, dan saling menghormati ia praktikkan dalam keseharian. Kepeduliannya tidak mengenal batas agama—partisipasinya hadir di berbagai rumah ibadah, dukungannya nyata dalam setiap upaya membangun harmoni. Prinsipnya sederhana namun kuat: di mana ada kebutuhan untuk berbuat baik, di situ ia hadir.
Sebagian orang mengenalnya sebagai pengusaha sukses. Namun bagi mereka yang lebih dekat, ia adalah orang tua, sahabat, dan penasehat. Sosok yang mendengar sebelum menilai, membantu tanpa menghitung, dan membimbing tanpa menggurui. Ia adalah salah satu penggerak ekonomi di Kabupaten Buru, tetapi juga penggerak nilai-nilai kemanusiaan yang lebih dalam dari sekadar angka dan transaksi.
Di Namlea, gelar sesepuh bukanlah sekadar penghormatan usia, melainkan pengakuan atas kebijaksanaan dan keteladanan. Dan gelar itu pantas disematkan kepada Ongko Tuya. Ia adalah tokoh lintas agama dan lintas generasi—figur yang menjembatani perbedaan, merawat persatuan, dan menanamkan semangat gotong royong di tengah masyarakat yang majemuk.
Pada akhirnya, setiap orang menulis kisahnya sendiri dalam perjalanan hidup. Ongko Tuya memilih menulis kisah tentang pengabdian. Tentang bagaimana menjadi berarti tanpa harus meninggi. Tentang bagaimana kekuatan sejati terletak pada ketulusan memberi. Lebih dari itu, semoga sifat dan kepribadian Ongko Tuya tidak berhenti pada dirinya semata, tetapi diwariskan dan dipraktikkan oleh anak-anaknya—agar nilai ketulusan, kepedulian, dan semangat persatuan yang telah ia tanamkan terus tumbuh dan berakar kuat dari generasi ke generasi.
Semoga jejak langkahnya di Tanah Buru terus menjadi inspirasi—bahwa yang abadi bukanlah apa yang kita miliki, melainkan apa yang kita berikan.