Oleh : Dr. M.J. Latuconsina, S.IP, MA
Staf Dosen Fisipol, Universitas Pattimura
Mengawalinya meminjam ungkapan kontemplatif Albert Einstein (1879-1955), seorang ilmuwan kelahiran Jerman, yang populer melalui teori relativitas, mekanika kuantum dan teori realisme ilmiah, yang memilih hengkang dari tanah kelahirannya ke Negeri Paman Sam-Amerika Serikat di tahun 1933 lampau bahwa, “perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan; perdamaian hanya dapat dicapai dengan pengertian.”
***
Realitas demikian dilakukan Gubernur Provinsi Maluku, Hendrik Lewerissa (HL). Dengan komitmennya untuk menjaga Maluku tetap aman dan damai, ia pun turun menyusuri berbagai pelosok kawasan, yang berjuluk “provinsi seribu pulau” ini, untuk mengupayakan perdamaian diantara sesama anak negeri yang berkonflik.
Gubernur HL membangun pemahaman diantara sesama anak negeri yang berkonflik bahwa, damai itu indah dan damai itu lebih baik daripada saling konflik sesama saudara. Tujuannya mulia yakni, untuk merealisasikan Maluku pung bae. Dari sisi teoritik apa yang dilakukan Gubernur HL tersebut, sesuai dengan fungsi pemerintahan, sebagaimana dikemukakan John Adam Smith (1723-1790), seorang filsuf berkebangsaan Skotlandia.
Penulis buku legendaris : “The Wealth of Nations”, yang populer dan dipublish, untuk pertamakalinya di tahun 1776 lampau tersebut, mengatakan bahwa, fungsi pemerintah terbatas (laissez-faire), dimana fokus pada tiga bidang utama. Salah satu fungsi pemerintah adalah memelihara keamanan dalam negeri, disamping menegakkan keadilan internal (peradilan), serta menyediakan infrastruktur dan barang publik yang tidak mampu dikelola sektor swasta.
Dalam kiprah Gubernur HL menyusuri berbagai pelosok negeri di Provinsi Maluku, untuk menyelesaikan konflik sesama anak negeri, yang terjadi pada beberapa negeri. Diantaranya : Gubernur HL mengunjungi Negeri Sawai, Negeri Adninistratif Masihulan, dan Negeri Rumah Olat Maluku Tengah pada 4 April 2025, yang sebelumnya ketiga negeri tersebut pada 3 April 2023 mengalami konflik, yang berdampak pada jatuhnya korban, kerusakan rumah dan kebun para warga negeri.(Antara Maluku, 2025).
Selanjutnya Gubernur HL meninjau Desa Hunut Kota Ambon pada 19 Agustus 2025, dimana awalnya terjadi konflik sebagai akibat tawuran antar pelajar pada 19 Agustus 2025 di desa tersebut. Akibatnya jatuhnya korban dan rumah warga terbakar. Kemudian Gubernur HL mengunjungi Negeri Kailolo dan Negeri Kabau Maluku Tengah pada 10 September 2025. Sebelumnya kedua negeri jiran ini berkonflik, yang dipicu dugaan penganiayaan orang tak dikenal (OTK) terhadap warga Negeri Kailolo.(Kompas, Potret Maluku 2025)
Dalam perkembangannya, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) periode 2019-2024 ini juga mengunjungi Negeri Kariu Maluku Tengah, pada 18 Januari 2026, untuk meninjau tenda pengungsian warga korban konflik, sebagai akibat konflik dengan tetangganya Negeri Pelau, yang terjadi sejak 25 hingga 27 Januari 2022 lalu. Begitu pula, Gubernur HL mendatangi Negeri Liang Maluku Tengah pada 29 Januari 2026.(Siwalima, Teras Maluku 2026).
Sebelumnya pada 18 Oktober 2025 terjadi penganiyaan warga Negeri Liang, klimaksnya konflik antar dua kubu di negeri ini pada 4 Januari 2026. Ada pula Gubernur HL tidak langsung turun ke area konflik. Namun ia memfasilitasi penyelesaian konflik antara Negeri Hitu Mesing dan Negeri Morela Maluku Tengah, pada 5 Maret 2026 di ruang rapat Kantor Gubernur Provinsi Maluku. Awalnya kedua negeri jiran itu mengalami konflik pada 6 Februari 2026. Akibatnya rumah terbakar, warga masyarkat dan aparat keamanan mengalami luka.(Siwalima, Patrolinews 2026).
Dalam dinamikanya, Gubernur HL juga melibatkan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bersama Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, Bupati Seram Bagian Timur (SBT) Fachri Alkatiri, serta tokoh agama untuk menggelar rapat koordinasi di Kepolisian Daerah (Polda) Maluku, pada 26 Desember 2025 terkait bentrok antar pemuda di kawasan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) A. M. Sangadji Ambon, yang terjadi pada 26 Desember 2025. Akibatnya 10 orang mengalami luka.(Antara Maluku, Info Ambon 2025).
Terlepas dari itu, kunjungan Gubernur HL di kawasan konflik, tidak seremonial belaka dengan bertemu para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, menggelar makan patitah, memberikan bantuan, mengecek kondisi sosial ekonomi, dan memberikan sambutan. Namun aspek substansinya mengajak warga masyarakat, untuk hidup berdampingan dengan aman, dan damai ditengah kemajemukan sosial, ekonomi dan budaya warga masyarakat, yang pernah berkonflik. Sehingga ekspetasi par Maluku pung bae dapat terwujud, dan dirasakan warga masyarakat Maluku.
Akhirulkalam mengutip qoutes Helen Adams Keller (1880-1968), penulis Amerika Serikat, yang meraih dua piala Oscar, tahun 1955 untuk kategori Best Documentary Feature, dan tahun 1963 untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik bahwa, “optimisme adalah kepercayaan yang menuju pencapaian. Tidak ada yang bisa dilakukan tanpa harapan dan keyakinan.” Dan rill Gubernur HL adalah sang juru damai terbaik. Ia mendamaikan warga masyarakat Maluku, yang berkonflik hingga ke pelosok, dengan harapan dan keyakinan berjalan sukses. Dampak positifnya demi kemaslahatan warga masyarakat Maluku.