Bupati Parosil Mabsus Mengapresiasi Pelestarian Budaya Dengan Di Gelarnya Kesenian Jaranan
Jakarta -MEDIA ISTANA LAMPUNG BARAT – Denting gamelan bertalu mengiringi gerak lincah para penari jaranan di Pekon Tambak Jaya, Kecamatan Way Tenong pada Sabtu (28/03/2026).
Di tengah riuh tepuk tangan masyarakat, perayaan budaya itu tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kesinambungan tradisi dan eratnya persatuan.
Kemeriahan Ajang Silaturahmi Kesenian Jaranan 1447 Hijriyah/2026 Masehi ini menjadi bagian dari rangkaian panjang tradisi masyarakat Lampung Barat.
Sebelumnya, masyarakat telah lebih dulu merayakan budaya sekura yang digelar sejak 1 hingga 7 Syawal, sebuah momentum khas yang mengandung makna kebersamaan, keterbukaan, dan persamaan derajat tanpa memandang latar belakang.
Memasuki 8 Syawal, semangat tersebut dilanjutkan melalui pertunjukan jaranan yang menjadi ruang ekspresi sekaligus ajang memperkuat silaturahmi antar masyarakat Lampung Barat dari berbagai suku.
Jika sekura menghadirkan simbol kesetaraan melalui topeng yang menyamarkan identitas, maka jaranan menampilkan harmoni melalui gerak, irama, dan kekompakan para pemainnya.
Setidaknya 15 grup kesenian jaranan dari Kecamatan Sekincau, Way Tenong, dan Air Hitam turut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Ribuan warga dari berbagai wilayah memadati lokasi, larut dalam suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga memiliki kehangatan sosial.
Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa rangkaian budaya dari sekura hingga jaranan merupakan kekuatan besar dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.
“Atas nama Pemerintah Daerah Lampung Barat, saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kebudayaan harus kita jaga dan lestarikan karena merupakan salah satu alat pemersatu bangsa,” ujar Parosil.
Ia menjelaskan bahwa sekura dan jaranan bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan media sosial yang efektif dalam membangun komunikasi, mempererat hubungan, serta menumbuhkan rasa saling menghargai di tengah perbedaan suku, budaya, dan agama.
“Mulai dari sekura sejak 1 hingga 7 Syawal, hingga hari ini jaranan di 8 Syawal, semuanya menjadi rangkaian yang memperkuat silaturahmi. Ini adalah bukti bahwa budaya bisa menjadi alat pemersatu dan penjaga harmoni masyarakat,” tambahnya.
Menurut Bupati Parosil, tingginya antusiasme masyarakat menjadi cerminan bahwa nilai-nilai budaya masih hidup dan relevan hingga saat ini di tengah gempuran kecanggihan tekhnologi digital.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus melestarikan tradisi sebagai warisan sekaligus fondasi dalam membangun kebersamaan.
“Semangat yang tertinggal bukan hanya kegembiraan, tetapi juga kesadaran bahwa di balik setiap gerak tari dan irama musik, terdapat nilai luhur yang terus menyatukan masyarakat Lampung Barat dalam bingkai keberagaman,” pungkasnya.
HAMDAN