Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Di sudut timur negeri ini, di wilayah seperti Kecamatan Batabual, Kabupaten Buru, keterisolasian sering kali dibaca semata sebagai persoalan ekonomi. Jalan yang terputus, jembatan yang tak kunjung terbangun, dan perputaran barang yang tersendat—semuanya dianggap bermuara pada angka-angka: pendapatan rendah, harga tinggi, dan pasar yang stagnan. Namun, cara pandang seperti itu sesungguhnya terlalu sempit. Ada lapisan yang jauh lebih dalam, yang kerap luput dari perhatian: dimensi psikologis manusia.
Keterisolasian yang berlangsung puluhan tahun tidak hanya membatasi mobilitas fisik, tetapi juga menggerus harapan. Bayangkan kehidupan yang berjalan dalam pola yang sama dari hari ke hari—bangun pagi tanpa pernah melihat kapal bersandar, tanpa dermaga yang menjadi titik temu, tanpa tanda-tanda pergerakan dari dunia luar. Di darat, jalan-jalan terputus oleh musim, ditumbuhi rumput, seolah menjadi simbol betapa akses telah lama ditinggalkan.
Dalam situasi seperti ini, manusia tidak serta-merta menjadi malas. Mereka kehilangan alasan untuk bergerak. Ketika usaha tidak menjanjikan perubahan, ketika kerja keras tidak membuka peluang, maka yang tumbuh adalah sikap apatis. Harapan memudar, digantikan oleh rasa masa bodoh yang perlahan mengikis semangat hidup. Ini bukan sekadar krisis ekonomi—ini adalah krisis mental kolektif yang berbahaya bagi keberlanjutan generasi.
Apatisme sosial adalah bentuk keterpurukan yang paling sunyi. Ia tidak selalu terlihat dalam statistik, tetapi dampaknya nyata: hilangnya daya juang, melemahnya semangat kompetisi, dan pudarnya mimpi-mimpi masa depan. Jika dibiarkan, kondisi ini akan membentuk lingkaran setan yang sulit diputus—kemiskinan melahirkan keputusasaan, dan keputusasaan memperdalam kemiskinan.
Namun, harapan tidak selalu membutuhkan intervensi besar dan rumit. Terkadang, perubahan bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana tetapi tepat sasaran. Dalam konteks Kecamatan Batabual, membangun sebuah dermaga kecil untuk pendaratan feri bukan hanya soal infrastruktur—ia adalah simbol keterhubungan, tanda bahwa wilayah ini kembali “dilihat” dan “dihubungkan” dengan dunia luar.
Sebuah dermaga, sekecil apa pun, membawa lebih dari sekadar kapal. Ia membawa aktivitas, interaksi, dan denyut kehidupan. Ketika kapal mulai datang, buruh pelabuhan bekerja, hasil pertanian dan perkebunan menemukan jalannya ke pasar, dan pelaku UMKM bergerak mengikuti arus. Perlahan, ruang yang sebelumnya sunyi berubah menjadi titik temu ekonomi dan sosial.
Lebih dari itu, kehadiran aktivitas ini menyalakan kembali sesuatu yang lama padam: harapan. Masyarakat mulai melihat alasan untuk bangun pagi dengan semangat. Mereka menyaksikan peluang, sekecil apa pun, dan dari situlah energi baru tumbuh. Dari diam menjadi bergerak, dari pasif menjadi aktif. Harga diri manusia pun perlahan pulih—karena mereka merasa kembali memiliki peran dalam menentukan masa depan.
Tentu, pembangunan akses darat tetap penting. Jalan dan jembatan adalah fondasi jangka panjang yang tidak bisa diabaikan. Namun, realitas anggaran sering kali membuat proyek-proyek besar ini membutuhkan waktu panjang dan proses bertahap. Di sinilah kebijakan yang cerdas diuji: bagaimana menghadirkan solusi yang cepat, terjangkau, tetapi berdampak langsung.
Dermaga feri adalah jawaban yang realistis. Dengan anggaran yang relatif kecil melalui APBD, pemerintah daerah dapat memulai perubahan nyata tanpa harus menunggu proyek besar selesai. Ini bukan soal menggantikan pembangunan darat, melainkan melengkapinya—memberikan napas awal sebelum tubuh benar-benar kuat untuk berjalan.
Batabual mengajarkan kita satu hal penting: pembangunan sejati bukan hanya tentang membuka akses ekonomi, tetapi juga membuka kembali harapan manusia. Karena pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari seberapa banyak barang yang keluar masuk, tetapi dari seberapa besar semangat warganya untuk hidup, bekerja, dan bermimpi.
Dan mungkin, perubahan besar itu memang bisa dimulai dari sebuah dermaga kecil.