Madiun, media istana,com
—Di tengah hamparan padi yang mulai menguning sebagai tanda awal musim panen, warga Dusun Sumbersuko, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, kembali menggelar tradisi adat Methil Mbok Sri, Minggu (13/4/2026)
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kelompok Tani Dewi Sri bersama masyarakat setempat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Sejak pukul 08.00 WIB, prosesi adat dimulai di sebuah gubuk kecil yang berada di tengah area persawahan. Para petani dan tokoh masyarakat tampak duduk melingkar di atas tikar yang digelar di pematang sawah,
dengan sesaji utama berupa satu nasi buceng serta berok’an sederhana. Sajian tersebut dilengkapi lauk-pauk khas Jawa seperti urap-urap, lalapan, telur rebus, ikan teri, tahu-tempe,sayur tewel serta satu ingkung ayam panggang utuh.
Menurut para sesepuh, nasi buceng dalam tradisi Jawa memiliki makna simbolik sebagai wujud doa dan harapan. Sementara Methil berarti memetik atau menandai dimulainya panen, dan Mbok Sri merujuk pada Dewi Sri, sosok yang diyakini sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran dalam kehidupan agraris masyarakat Jawa.
Ritual ini menjadi bentuk penghormatan kepada Dewi Sri sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan para petani selama masa tanam, mulai dari terhindarnya serangan hama hingga hasil panen yang melimpah.
Selain Methil Mbok Sri, masyarakat juga melaksanakan prosesi Rokat sebagai bentuk doa bersama untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari berbagai ancaman yang dapat mengganggu sektor pertanian. Doa dipimpin oleh tokoh agama setempat, Ustadz Muhammad Sajali.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Sajali menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. “Hasil bumi bukan semata buah kerja keras manusia, tetapi juga rahmat Allah SWT melalui alam yang harus kita syukuri dan di jaga,” ujarnya di hadapan warga.
Kepala Dusun Sumbersuko, Dodik Satrio Nugroho, turut memberikan apresiasi atas kekompakan warga dalam melestarikan tradisi leluhur
yang sarat nilai kearifan lokal tersebut. Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Dewi Sri, Susanto, bersama bendahara kelompok, Priyanto, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kembali kegiatan adat ini.
“Alhamdulillah bisa dilaksanakan lagi. Terima kasih kepada semua pihak. Semoga hasil panen tahun ini lebih baik dan generasi muda tetap menjaga tradisi ini,” ujar Priyanto.
Usai seluruh rangkaian prosesi adat selesai, warga kemudian berkumpul menikmati tumpeng bersama di tengah sawah. Suasana hangat penuh kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut, diiringi canda tawa para petani dan warga yang hadir.
Tradisi Methil Mbok Sri dan Rokat tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga memperkuat ikatan sosial masyarakat desa. Melalui ritual ini, nilai gotong royong, kepedulian sosial, serta kearifan lokal terus diwariskan kepada generasi muda.
Di tengah arus modernisasi, warga Dusun Sumbersuko menunjukkan komitmen kuat untuk terus menjaga tradisi agraris tersebut sebagai bagian dari identitas budaya yang patut dilestarikan.(Tukiyo)