Namlea, 12 April 2026 — Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) ke-VI Partai Golkar Kabupaten Buru berubah menjadi sorotan tajam setelah pimpinan sidang diduga meninggalkan arena tanpa kejelasan, bahkan disebut bertolak ke Ambon secara diam-diam.
Ketua Pimpinan Kecamatan (PK) Namlea, Jainudin Kabau, secara terbuka melontarkan kekecewaannya terhadap jalannya forum yang dinilai sarat kejanggalan dan minim transparansi.
Menurutnya, sidang pleno yang digelar malam sebelumnya sempat diskors dengan alasan memberi waktu kepada pimpinan sidang untuk berkoordinasi dengan DPD I Partai Golkar tingkat provinsi. Namun hingga larut malam, tak ada kejelasan lanjutan, bahkan forum praktis terhenti tanpa kepastian.
“Skorsing kami pahami sebagai bagian dari mekanisme. Tapi yang terjadi justru ketidakjelasan total. Tidak ada informasi resmi, tidak ada kepastian kapan sidang dilanjutkan,” tegas Jainudin.
Situasi semakin memanas setelah beredar informasi bahwa sejumlah pihak, termasuk unsur DPD I, justru meninggalkan lokasi menuju Ambon di tengah belum rampungnya agenda Musda. Langkah ini dinilai janggal dan memicu spekulasi liar di kalangan peserta.
“Kalau benar ada yang berangkat ke Ambon tanpa pemberitahuan resmi, ini bukan hanya tidak etis, tapi mencederai forum Musda itu sendiri,” katanya.
Tak hanya soal absennya pimpinan sidang, Jainudin juga menyoroti dugaan keberpihakan dalam proses penetapan calon ketua. Ia menyebut salah satu bakal calon, Jaidun Sa’nun, berada dalam posisi terancam tidak lolos, yang memunculkan dugaan adanya permainan di balik layar.
“Kami melihat indikasi kuat adanya keberpihakan. Ini berbahaya karena merusak prinsip demokrasi internal partai,” ujarnya dengan nada tegas.
Padahal sebelumnya, Steering Committee disebut telah mencapai kesepakatan penting yang seharusnya diumumkan dalam sidang pleno keempat. Namun agenda tersebut gagal terlaksana akibat ketidakhadiran pimpinan sidang dan pihak terkait.
Kondisi ini membuat Musda Golkar Buru terancam tidak hanya mandek, tetapi juga kehilangan legitimasi di mata kader. Dinamika yang tidak transparan dinilai berpotensi memecah soliditas partai menjelang agenda politik ke depan.
“Kalau ini terus dibiarkan, bukan hanya Musda yang gagal, tapi kepercayaan kader terhadap partai juga bisa runtuh,” pungkas Jainudin.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pimpinan sidang maupun DPD I terkait alasan penghentian sidang maupun keberangkatan ke Ambon. Situasi di arena Musda pun dilaporkan masih belum kondusif.