Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Ada yang terasa janggal setiap kali kita membaca berita tentang upaya “menertibkan Gunung Botak.” Kata-katanya terdengar tegas, bahkan heroik—seolah yang hendak didisiplinkan adalah sebongkah alam yang sejak awal justru dikenal paling patuh pada hukum semesta. Gunung, yang diam, sabar, dan tunduk pada ketetapan Sang Pencipta, kini tiba-tiba menjadi objek yang perlu “ditertibkan.” Ironi macam apa ini?
Barangkali persoalannya bukan pada gunungnya. Gunung tidak pernah melanggar aturan. Ia tidak menambang dirinya sendiri, tidak pula mengatur izin atau mempermainkan hukum. Gunung hanya ada—diam, setia, dan apa adanya. Yang bergerak, yang gaduh, yang sering kali tak tertib, adalah manusia di sekitarnya.
Namun entah mengapa, yang kerap disasar justru “Gunung Botak”-nya, bukan manusianya. Seolah dengan mengirim pasukan, memasang larangan, dan menggencarkan operasi, persoalan selesai begitu saja. Padahal, yang luput disentuh adalah akar masalah: legalitas yang kabur, kepentingan yang bertabrakan, serta kehadiran negara yang terasa setengah hati.
Jika benar ingin menertibkan, maka yang perlu ditertibkan adalah manusia—bukan gunungnya. Tertibkan aturan hukumnya, pastikan jelas, jujur, dan adil. Pisahkan mana yang memiliki hak sah dan mana yang sekadar memanfaatkan celah. Negara seharusnya hadir lebih dulu, bukan sekadar membuka jalan bagi investor tanpa fondasi yang rapi.
Langkahnya pun sebenarnya sederhana, meski sering dibuat seolah rumit. Turunkan tim yang berwenang, evaluasi langsung di lapangan, percepat penyelesaian perizinan, dan libatkan pemerintah daerah secara serius. Kekosongan hukum yang dibiarkan berlarut-larut hanya akan melahirkan masalah baru—dari kerugian ekonomi hingga potensi konflik dan kejahatan.
Sebaliknya, jika yang ingin “ditertibkan” tetap gunungnya, maka silakan kirim sebanyak mungkin aparat untuk menjaganya. Gunung itu akan tetap diam seperti sediakala. Hanya saja, kita mungkin akan kembali membaca berita yang sama di jilid berikutnya—tentang kegagalan yang diulang dengan cara yang persis sama.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang seberapa keras kita menjaga gunung, melainkan seberapa serius kita membenahi manusia. Karena selama yang ditertibkan bukan pelakunya, maka ketertiban akan selalu menjadi wacana—indah dalam kata, tetapi rapuh dalam kenyataan.