Saumlaki,mediaistana.com -Harapan besar masyarakat terhadap hadirnya proyek migas di Kabupaten Kepulauan Tanimbar dinilai perlu diimbangi dengan pemahaman yang realistis mengenai pola kerja industri minyak dan gas. Proyek bernilai triliunan rupiah itu disebut tidak otomatis membuka lapangan kerja massal seperti industri manufaktur atau pabrik produksi pada umumnya.
Seorang pemuda Tanimbar yang meminta namanya dirahasiakan menilai, persepsi publik mengenai ribuan tenaga kerja lokal yang akan langsung terserap dalam proyek migas perlu diluruskan melalui sosialisasi yang jujur dan terbuka.
“Banyak masyarakat berpikir kalau proyek besar masuk, maka otomatis semua orang bisa bekerja di dalamnya. Padahal sektor migas berbeda dengan industri pabrik yang membutuhkan banyak tenaga produksi harian,” ujarnya kepada media ini.
Ia menjelaskan, sistem kerja industri migas lebih bertumpu pada teknologi, pengendalian operasi, standar keselamatan tinggi, serta tenaga teknis bersertifikat yang memiliki kompetensi khusus.
Menurutnya, sebagian besar posisi strategis dalam proyek migas membutuhkan pengalaman teknis, sertifikasi profesional, hingga standar kerja internasional yang tidak bisa dipenuhi secara instan.
“Ini minyak dan gas. Operasionalnya sangat ketat. Banyak pekerjaan inti membutuhkan tenaga ahli. Bahkan lulusan sekolah migas pun belum tentu langsung terakomodir,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui masyarakat lokal tetap memiliki peluang dalam sektor pendukung operasional proyek, seperti keamanan, transportasi, logistik, kebersihan, katering, administrasi, hingga jasa penunjang lainnya.
Namun ia mengingatkan, masyarakat perlu memahami bahwa persaingan pada posisi teknis dan profesional akan jauh lebih ketat karena melibatkan tenaga kerja berpengalaman dari berbagai daerah di Indonesia.
Karena itu, ia meminta pemerintah daerah, perusahaan, dan seluruh pemangku kepentingan lebih serius menyiapkan sumber daya manusia lokal sejak dini agar tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri.
“Yang harus dipikirkan sekarang bukan sekadar euforia proyek, tetapi bagaimana anak-anak Tanimbar dipersiapkan melalui pendidikan vokasi, pelatihan bersertifikat, dan magang sesuai kebutuhan industri migas,” tegasnya.
Ia juga menilai sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan secara objektif agar tidak menimbulkan harapan berlebihan yang berpotensi memicu kekecewaan di kemudian hari.
“Jangan sampai masyarakat berpikir semua akan direkrut menjadi pekerja inti proyek. Edukasi yang realistis justru penting supaya orang bisa menyiapkan diri dari sekarang,” pungkasnya.