PURWOREJO || Mediaistana.com – Gelombang kenaikan harga bahan pokok dan BBM kembali menekan daya beli masyarakat. Di tengah penghasilan yang tetap, beban hidup warga Purworejo kian terasa. Tak hanya itu, angka pengangguran yang terus bertambah menambah daftar panjang tantangan ekonomi saat ini.
Melihat kondisi tersebut, *Ketua Suara Independent Jurnalis Indonesia/SIJI Kabupaten Purworejo* mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menguatkan semangat “guyub rukun” sebagai benteng utama menghadapi krisis.
_“Kami semua merasakan hal yang sama. Harga beras, dan minyak, telur naik. BBM naik, ongkos transportasi ikut naik. Tapi gaji atau penghasilan harian banyak warga tetap di situ-situ saja. Kalau kita hadapi sendiri-sendiri, rasanya berat sekali,”_ ujar Ketua SIJI Purworejo kepada awak media.
Ia menegaskan, di saat negara dan pemerintah berjuang lewat kebijakan, kekuatan utama justru ada di tangan masyarakat itu sendiri. “Guyub rukun bukan sekadar slogan. Di Purworejo, itu sudah jadi budaya. Sekarang saatnya kita buktikan lagi,” tegasnya.
*4 Solusi Kongkret Biar Purworejo Tetap Kuat & Saling Bantu:btu *1. Kuatkan Jaring Pengaman Sosial Warga: “Satu RT, Satu Dapur Asuh”*
Ketua SIJI mengusulkan ide sederhana: setiap RT/RW mengaktifkan kembali dapur umum atau “dapur asuh”. Warga yang mampu bisa patungan beras, telur, atau sayur. Warga yang terdampak bisa ambil sesuai kebutuhan.
> _“Nggak usah malu. Ini bukan minta-minta. Ini gotong royong. Tetangga yang lagi longgar bantu tetangga yang lagi seret. Begitu terus, insya Allah semua kebagian,”_ jelasnya.
*2. Tekan Pengangguran Lewat “Ekonomi RT” & UMKM Mikro*
Soal pengangguran, ia mendorong warga jangan menunggu lowongan besar. “Mulai dari rumah. Ibu-ibu bisa kue, bapak-bapak bisa servis, anak muda bisa jualan online. SIJI siap jadi jembatan promosi gratis lewat media kami untuk UMKM mikro Purworejo. Yang penting mau mulai dulu, walau kecil,” ajaknya.
Ia juga mendorong Pemdes dan Disnaker memfasilitasi pelatihan singkat berbasis kebutuhan: barista, teknisi HP, jahit, hidroponik. “Latihan 3 hari, langsung bisa jualan. Itu lebih cepat daripada nunggu pabrik,” katanya.
*3. Belanja Cerdas & Tukar Barang: Hidupkan Kembali “Barter”*
Untuk menyiasati harga naik, Ketua SIJI mengajak warga menghidupkan budaya barter antar-tetangga. “Punya cabai banyak, tukar sama tetangga yang punya beras. Punya tenaga, tukar sama yang punya keahlian. Dengan begitu, uang tunai yang sedikit bisa dipakai untuk kebutuhan paling pokok,” sarannya.
*4. Jaga Komunikasi & Hindari Fitnah: Kunci Guyub Rukun*
Ia berpesan, tekanan ekonomi paling berbahaya kalau memecah kerukunan. “Jangan mudah percaya hoaks, jangan gampang menyalahkan tetangga atau pemerintah. Kalau ada masalah, rembugan. Datang ke RT, ke tokoh masyarakat. Purworejo kuat karena kita rukun. Kalau rukun kita retak, musuh terbesar kita bukan harga naik, tapi perpecahan,” pesannya.
*Harapan ke Pemerintah & Penutup*
Di akhir, Ketua SIJI juga berharap Pemkab Purworejo terus mengoptimalkan pengawasan harga, operasi pasar murah, dan program padat karya untuk menyerap pengangguran.
> _“Pemerintah punya perannya, warga punya perannya. Kalau dua-duanya jalan bareng, Purworejo pasti bisa lewati masa sulit ini. Kita buktikan lagi, Purworejo itu kota yang paling guyub rukun di Jawa Tengah,”_ pungkasnya. (joko)