Peratin Sustro Hamid Bersama Warga Lestarikan Tradisi Pangku Paliare pada Peringatan 25 Muharram 1448 H
Jakarta -MEDIA ISTANA,Lampung Barat – Masyarakat Pekon Simpang Mutar Alam, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung, memperingati 25 Muharram 1448 Hijriah dengan penuh kekhusyukan melalui tradisi keagamaan Pangku Paliare yang dipusatkan di Masjid Babu Salam, Jumat dini hari, 10 Juli 2026.
Kegiatan yang telah menjadi tradisi turun-temurun tersebut berlangsung dengan suasana religius dan penuh kebersamaan. Acara dihadiri langsung oleh Peratin Pekon Simpang Mutar Alam, Sustro Hamid, beserta jajaran aparatur pekon, tokoh adat, tokoh agama, serta ratusan masyarakat dari berbagai wilayah yang turut memadati masjid.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan lantunan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW, dzikir bersama, tausiyah agama, hingga doa bersama yang dipanjatkan untuk keselamatan masyarakat serta kemajuan Pekon Simpang Mutar Alam.
Suasana Masjid Babu Salam tampak dipenuhi jamaah yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat. Momentum tersebut menjadi wujud nyata kuatnya nilai-nilai religius yang masih terpelihara di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Peratin Pekon Simpang Mutar Alam, Sustro Hamid, menyampaikan apresiasi atas semangat kebersamaan masyarakat yang terus menjaga tradisi keagamaan sebagai bagian dari identitas budaya dan spiritual masyarakat pekon.
“Alhamdulillah setiap tanggal 25 Muharram kita dapat kembali berkumpul dalam kegiatan Pangku Paliare ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada para tokoh adat, tokoh agama, serta seluruh masyarakat yang telah hadir. Mari kita jadikan momentum Muharram sebagai waktu untuk memperkuat iman, mempererat silaturahmi, menjaga adat istiadat, dan membangun kebersamaan demi kemajuan Pekon Simpang Mutar Alam,” ujar Sustro Hamid.
Sementara itu, tokoh adat setempat, Haji Dadang, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara nilai-nilai adat dan ajaran agama di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.
Menurutnya, tradisi Pangku Paliare bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan warisan budaya yang memiliki nilai luhur sebagai perekat persaudaraan masyarakat.
“Kegiatan seperti ini harus terus dilestarikan karena menjadi simbol persatuan,
memperkuat ukhuwah, sekaligus menjaga jati diri masyarakat agar tetap berpegang pada adat dan nilai-nilai Islam,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, tausiyah agama disampaikan oleh Ustaz Riswan dengan mengangkat tema “Hijrah dan Muhasabah di Bulan Muharram.” Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh jamaah menjadikan bulan Muharram sebagai momentum introspeksi diri, meningkatkan kualitas ibadah,
memperbanyak amal kebajikan, menjauhi segala bentuk kemaksiatan, serta mempererat kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya mendoakan para pendahulu dan memohon keberkahan serta keselamatan bagi seluruh warga agar kehidupan masyarakat senantiasa diberikan kedamaian dan kemakmuran.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan warga, para almarhum, serta kemajuan Pekon Simpang Mutar Alam. Setelah itu, seluruh jamaah mengikuti ramah tamah dan makan bersama yang semakin mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat.
Salah seorang warga yang hadir mengaku bersyukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap tradisi Pangku Paliare dapat terus dilaksanakan setiap tahunnya.
“Senang sekali Peratin, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat bisa berkumpul bersama di masjid. Kegiatan seperti ini membuat kami semakin semangat memakmurkan masjid dan menjaga kebersamaan,” ujarnya.
Tradisi Pangku Paliare menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan, budaya, dan gotong royong masih tumbuh kuat di tengah masyarakat Pekon Mutar Alam. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperingati datangnya bulan Muharram, tetapi juga memperkuat persatuan, menjaga warisan budaya, serta menanamkan semangat kebersamaan sebagai modal utama dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan religius
HAMDAN ❤️