Shalat malam bukan sekadar ibadah sunah yang dilakukan ketika sebagian besar manusia terlelap dalam tidur. Di balik sunyinya malam, tersimpan keistimewaan spiritual yang mampu menguatkan iman, menenangkan jiwa, serta mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT.
Pesan religius tersebut menjadi inti khutbah Jumat yang disampaikan Kepala Bagian Pengajaran dan Pelatihan (Kabag Jarlat) SPN Polda Maluku, Kompol H. Akmil Djapa, di Masjid Al Iqro SPN Polda Maluku.
(23/10/2026)
Dalam khutbah bertema “Dahsyatnya Shalat Malam”, Kompol H. Akmil Djapa mengajak jamaah menjadikan shalat malam sebagai bagian dari kehidupan seorang muslim, bukan hanya ibadah yang dilakukan sesekali ketika menghadapi kesulitan atau sedang memohon pertolongan Allah SWT.
Ia mengingatkan bahwa shalat malam memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Setelah shalat fardu, shalat malam termasuk ibadah sunah yang utama, sekaligus menjadi salah satu ciri orang-orang saleh yang senantiasa berusaha menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.
Keistimewaan lainnya terletak pada ketulusan dan kerahasiaan ibadah tersebut. Ketika seseorang bangun di tengah malam untuk bersujud, berdoa, dan memohon ampunan, ia melakukannya jauh dari keramaian dan pujian manusia. Yang menjadi tujuan hanyalah keridaan Allah SWT.
Dalam pesan khutbahnya, shalat malam juga digambarkan sebagai jalan untuk membangun kedekatan spiritual, memperkuat keteguhan hati, serta menumbuhkan keyakinan bahwa setiap doa dan ikhtiar hendaknya disertai penyerahan diri kepada Allah SWT.
BERPEGANG PADA PESAN SURAH AL-ISRA AYAT 79
Untuk memperkuat pesan tentang keutamaan tahajud, Kompol H. Akmil Djapa mengangkat firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 79:
“Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
Ayat tersebut memberikan pesan mendalam bahwa tahajud merupakan ibadah yang memiliki kedudukan khusus. Di dalamnya terdapat pendidikan tentang keikhlasan, kedisiplinan, kesabaran, dan kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Shalat malam mengajarkan bahwa kemuliaan tidak semata-mata diukur dari kedudukan, jabatan, maupun penghormatan manusia. Ada perjuangan batin yang berlangsung dalam kesunyian, ketika seseorang memilih bangkit dari tempat tidurnya demi memenuhi panggilan ibadah.
Dalam khutbah itu, jamaah juga diajak memahami lima keistimewaan shalat malam, yakni sebagai salah satu ibadah sunah paling utama setelah shalat fardu, memiliki keutamaan dalam ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas dan tersembunyi, menjadi ciri orang-orang saleh, menunjukkan kemuliaan hamba yang mendekatkan diri kepada Allah, serta menjadi kesempatan berdoa dan memohon kebaikan kepada-Nya.
Tentang doa, umat diingatkan untuk senantiasa berharap kepada Allah SWT, tanpa meninggalkan ikhtiar, kesabaran, dan keyakinan terhadap ketetapan-Nya.
DARI SUJUD DI MALAM HARI MENUJU AKHLAK DI SIANG HARI
Pesan penting dari khutbah bertema Dahsyatnya Shalat Malam bukan hanya mengajak umat memperbanyak ibadah, tetapi juga menjadikan ibadah sebagai sumber perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang yang membiasakan diri berdiri di hadapan Allah di tengah malam diharapkan semakin mampu menjaga kejujuran, mengendalikan amarah, menunaikan amanah, menghormati sesama, dan menjauhi perbuatan yang dilarang agama.
Nilai-nilai tersebut juga relevan bagi personel Polri dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Keteguhan iman, kejernihan hati, dan kesadaran akan pertanggungjawaban kepada Allah dapat menjadi pengingat moral agar setiap tugas dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, keadilan, dan kemanusiaan.
Sebab, ibadah yang baik semestinya tidak berhenti pada gerakan tubuh dan lantunan doa. Ibadah harus tercermin dalam sikap, perkataan, keputusan, serta cara seseorang memperlakukan orang lain.
Melalui khutbah Jumat di Masjid Al Iqro SPN Polda Maluku, Kompol H. Akmil Djapa mengingatkan kembali bahwa malam bukan hanya waktu untuk beristirahat, melainkan juga kesempatan bagi seorang muslim untuk bermuhasabah, memohon ampunan, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Pada akhirnya, kedahsyatan shalat malam tidak hanya terletak pada sunyinya waktu ketika ibadah itu dilaksanakan, tetapi juga pada ketulusan hati yang dibawa seseorang ketika kembali menjalani kehidupan.
Ketika dunia terlelap, seorang hamba yang bangun untuk bersujud sedang merawat hubungannya dengan Allah. Dan ketika fajar menyingsing, kesungguhan itu semestinya menjelma menjadi akhlak yang lebih baik, amanah yang lebih kuat, serta pengabdian yang membawa manfaat bagi sesama.
(Mus Ltc)