Pendidikan di Era AI : Saatnya Mengubah Budaya Menghafal Menjadi Pembelajaran Mendalam

Penulis : Syafrudin
Mahasiswa Doktoral Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

MEDIA ISTANA.COM

Jakarta : Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Kehadiran berbagai aplikasi berbasis AI yang mampu menjawab pertanyaan, menyusun tulisan, menganalisis data, menerjemahkan bahasa, hingga menghasilkan karya kreatif telah mengubah cara peserta didik memperoleh pengetahuan.

Apa yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencari informasi, kini dapat dilakukan hanya dalam hitungan detik. Minggu, 01 October 2026.

Fenomena ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan serius bagi dunia pendidikan Indonesia.

Di satu sisi, AI dapat menjadi instrumen yang memperluas akses pengetahuan, membantu personalisasi pembelajaran, dan meningkatkan efektivitas kerja guru.

Namun, di sisi lain, penggunaan AI tanpa pengendalian pedagogis dapat melahirkan budaya belajar instan, ketergantungan teknologi, melemahnya daya kritis, bahkan menurunnya integritas akademik.
Pertanyaan mendasarnya bukan lagi apakah dunia pendidikan perlu menggunakan AI, melainkan bagaimana pendidikan mampu mengarahkan penggunaan AI agar tidak menghilangkan esensi belajar itu sendiri.

Pendidikan Tidak Boleh Kalah oleh Kecanggihan Teknologi
Salah satu persoalan mendasar pendidikan saat ini adalah kecenderungan mengukur keberhasilan belajar berdasarkan banyaknya materi yang disampaikan, tingginya nilai akademik, dan kemampuan peserta didik menjawab soal.

Padahal, pendidikan sejatinya tidak hanya bertujuan memindahkan informasi dari guru kepada peserta didik, tetapi membangun kemampuan memahami, menganalisis, merefleksikan, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Kehadiran AI semakin memperjelas persoalan tersebut. Ketika peserta didik dapat meminta mesin kecerdasan buatan menyusun makalah, menjawab soal, atau membuat rangkuman dalam waktu singkat, apakah proses berpikir mereka ikut berkembang? Ataukah mereka justru semakin terbiasa menerima jawaban tanpa memahami proses memperoleh jawaban tersebut?
Dalam perspektif Islam, aktivitas intelektual dan pencarian ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah perintah membaca sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Alaq ayat 1–5:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ۝ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۝ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ۝ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۝ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat ini memberikan pesan filosofis bahwa aktivitas membaca, belajar, dan mengembangkan pengetahuan harus memiliki orientasi ketuhanan. Kemajuan teknologi, termasuk AI, dapat menjadi sarana pengembangan ilmu, tetapi penggunaannya harus tetap berada dalam kerangka tanggung jawab manusia kepada Allah SWT.

Dengan demikian, teknologi seharusnya memperkuat kemampuan berpikir manusia, bukan menggantikannya.

AI boleh membantu menemukan jawaban, tetapi peserta didik tetap harus mampu menguji kebenaran, memahami konteks, membangun argumentasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pemikirannya.
Deep Learning: Paradigma Baru yang Menempatkan Kedalaman Belajar sebagai Prioritas
Salah satu arah pembaruan pendidikan Indonesia adalah penguatan pendekatan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam.

Pemerintah melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 memperkuat pendekatan pembelajaran mendalam tanpa mengganti kurikulum yang berlaku. Kebijakan tersebut juga membuka ruang bagi mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial sesuai kesiapan satuan pendidikan dan minat peserta didik.

Hal yang perlu dipahami adalah bahwa Deep Learning dalam konteks kebijakan pendidikan Indonesia bukanlah teknologi kecerdasan buatan yang menggunakan jaringan saraf tiruan atau deep neural networks. Deep Learning yang dimaksud merupakan pendekatan pedagogis yang menekankan pembelajaran secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Ketiga prinsip tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun pengalaman belajar yang lebih berkualitas.

Pertama, berkesadaran (mindful learning). Peserta didik memahami tujuan pembelajaran, menyadari proses berpikirnya, serta memiliki motivasi untuk mengembangkan kemampuan diri. Mereka tidak sekadar belajar karena tuntutan ujian, tetapi memahami alasan dan manfaat dari pengetahuan yang dipelajari.

Kedua, bermakna (meaningful learning). Pembelajaran harus memiliki hubungan dengan realitas kehidupan. Pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas perlu dikaitkan dengan persoalan sosial, budaya, ekonomi, lingkungan, dan perkembangan teknologi. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mengetahui teori, tetapi mampu menerapkannya untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Ketiga, menggembirakan (joyful learning).

Pembelajaran perlu menciptakan suasana yang aman, interaktif, menantang, dan mendorong rasa ingin tahu. Kegembiraan bukan berarti menghilangkan kedisiplinan akademik, melainkan membangun pengalaman belajar yang membuat peserta didik merasa dihargai dan terdorong untuk terus berkembang.
Ketiga prinsip tersebut diperkuat melalui pengembangan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik. Artinya, pendidikan tidak hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga spiritualitas, kepekaan sosial, kesehatan, dan karakter.

Orientasi tersebut sejalan dengan QS. Al-Mujadilah ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Artinya: “Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ayat tersebut memberikan landasan bahwa pendidikan tidak sekadar mengejar kecakapan teknis, tetapi juga harus membangun kualitas keimanan dan intelektualitas manusia secara seimbang.
Mengintegrasikan AI dengan Pembelajaran Mendalam
Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengintegrasikan AI ke dalam pendekatan Pembelajaran Mendalam. Menurut saya, integrasi tersebut harus dibangun melalui perubahan orientasi pembelajaran: dari sekadar menggunakan teknologi menjadi kemampuan berpikir bersama teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.

Ada beberapa langkah strategis yang perlu diperhatikan.
Pertama, membangun literasi AI bagi guru dan peserta didik.
Literasi AI tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi.

Peserta didik perlu memahami cara kerja dasar AI, potensi dan keterbatasannya, kemungkinan kesalahan informasi, bias algoritma, serta persoalan privasi dan keamanan data. Mereka harus memahami bahwa jawaban AI tidak selalu benar dan setiap informasi tetap memerlukan verifikasi.
Prinsip tersebut memiliki relevansi kuat dengan QS. Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”

Ayat ini mengajarkan prinsip tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran informasi sebelum menerima, mempercayai, atau menyebarkannya. Dalam konteks AI, prinsip tabayyun menjadi sangat penting karena teknologi kecerdasan buatan dapat menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan, tetapi belum tentu akurat.
Kedua, mengubah desain tugas dan evaluasi pembelajaran.

Pendidik perlu mengembangkan model penugasan yang tidak mudah diselesaikan hanya dengan menyalin jawaban AI. Misalnya, peserta didik diminta melakukan observasi lapangan, wawancara, eksperimen, menyusun refleksi pribadi, mempertahankan argumentasi melalui presentasi, serta menjelaskan sumber dan proses penyusunan tugas.
Ketiga, menempatkan guru sebagai pengarah proses pembelajaran.
AI dapat membantu guru menyusun bahan ajar, mengembangkan variasi soal, memberikan alternatif penjelasan, dan menganalisis kebutuhan belajar peserta didik.

Namun, keputusan pedagogis tetap harus berada di tangan guru. Empati, keteladanan, pemahaman karakter, dan hubungan kemanusiaan tidak dapat begitu saja digantikan oleh algoritma.
Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengandung pesan bahwa pendidik memiliki amanah dan tanggung jawab dalam membimbing peserta didik. Kehadiran AI tidak menghapus tanggung jawab moral dan profesional seorang guru.

Keempat, membangun tata kelola pemanfaatan AI di lembaga pendidikan.
Sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi perlu memiliki pedoman penggunaan AI yang jelas. Pedoman tersebut harus mencakup batas penggunaan teknologi dalam tugas akademik, transparansi penggunaan AI, perlindungan data pribadi, pencegahan plagiarisme, serta tanggung jawab pengguna terhadap hasil yang dihasilkan teknologi.

Kelima, memastikan pemerataan akses teknologi.
Transformasi pendidikan berbasis AI tidak boleh hanya dinikmati oleh lembaga pendidikan yang memiliki fasilitas digital memadai.

Pemerintah dan pengelola pendidikan harus memperhatikan kesenjangan infrastruktur, ketersediaan jaringan internet, perangkat pembelajaran, dan kompetensi guru.

Jangan sampai AI justru memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah tertinggal.
Pendidikan Islam: Teknologi Harus Berjalan Bersama Adab
Dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam, integrasi AI dan Pembelajaran Mendalam perlu memiliki landasan nilai yang kuat. Kemajuan teknologi tidak boleh membuat pendidikan kehilangan orientasi spiritual dan moralnya.

Pendidikan Islam mengenal konsep ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib yang memberikan perhatian terhadap pengembangan pengetahuan, pembinaan potensi, serta pembentukan adab manusia.
Konsep ta’dib yang dikembangkan Syed Muhammad Naquib al-Attas memberikan pengingat penting bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang memiliki banyak pengetahuan, tetapi juga manusia yang mampu menempatkan ilmu, diri, dan tanggung jawabnya secara tepat.
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan betapa mulianya aktivitas mencari ilmu.

Namun, kemuliaan ilmu tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya informasi yang dikuasai, melainkan juga oleh orientasi, kesungguhan, dan pengamalannya dalam kehidupan.

Dalam konteks penggunaan AI, nilai amanah mengajarkan kejujuran dalam mengakui penggunaan teknologi. Nilai tabayyun mengharuskan peserta didik memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya.

Nilai tanggung jawab mengajarkan bahwa setiap hasil pekerjaan akademik harus dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara nilai adab mengingatkan bahwa kecanggihan intelektual harus berjalan seiring dengan kematangan moral.

Menyiapkan Generasi yang Tidak Hanya Cerdas, tetapi Juga Bijaksana
Transformasi pendidikan Indonesia pada akhirnya tidak boleh berhenti pada pengadaan perangkat digital, penggunaan aplikasi AI, atau perubahan dokumen kurikulum. Perubahan yang lebih mendasar harus terjadi pada budaya belajar, kualitas kepemimpinan pendidikan, kompetensi guru, dan sistem evaluasi pembelajaran.

Kita membutuhkan generasi yang mampu menggunakan AI, tetapi tidak kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Generasi yang cepat memperoleh informasi, tetapi tetap teliti dalam memeriksa kebenaran. Generasi yang menguasai teknologi, tetapi tidak kehilangan empati, integritas, dan tanggung jawab sosial.

Di sinilah Pembelajaran Mendalam menemukan relevansinya. AI menyediakan kecepatan, keluasan informasi, dan kemudahan akses pengetahuan.

Sementara itu, pendidikan harus memastikan bahwa manusia tetap memiliki kedalaman berpikir, kebijaksanaan, dan orientasi nilai.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan masa depan bukanlah seberapa banyak peserta didik mampu menggunakan kecerdasan buatan, melainkan seberapa bijaksana mereka memanfaatkan kecerdasan tersebut untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi pendidikan harus memastikan manusia tetap memiliki kebijaksanaan.

Sebab, masa depan pendidikan bukan tentang manusia yang dikalahkan oleh kecerdasan buatan, melainkan manusia yang mampu mengendalikan teknologi dengan ilmu, adab, dan tanggung jawab.

Sumber : Divisi Humas MIO Indonesia DKI Jakarta

Reporter.Aristono

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!