Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Ada pemandangan yang kerap menyisakan getir: seorang politikus yang dulu bersinar terang, dielu-elukan dan diiringi sorak puja, tiba-tiba redup ketika jabatan terlepas dari tangannya. Seolah-olah cahaya itu bukan miliknya sendiri, melainkan pantulan dari singgasana yang ia duduki. Ketika kursi itu bergeser, cahaya pun ikut padam. Di sanalah kita belajar bahwa tidak semua kilau adalah cahaya sejati.
Politik, pada hakikatnya, hanyalah sarana. Ia bukan tujuan akhir, bukan pelita yang menyala dari dalam, apalagi mahkota yang melekat abadi. Politik adalah kendaraan—alat untuk menempuh perjalanan pengabdian kepada publik. Ia dipakai, bukan dimiliki. Ia dijalankan dengan tanggung jawab, bukan digenggam dengan hasrat kepemilikan. Jabatan bukan hak pribadi; ia adalah titipan rakyat. Maka ketika masa itu selesai, semestinya selesai pula segala rasa memiliki yang berlebihan.
Masalah muncul ketika politik diperlakukan sebagai sumber identitas. Ketika seseorang menggantungkan harga diri dan cahaya hidupnya pada jabatan, ia sedang membangun bintang di langit yang bukan miliknya. Selama berada di orbit kekuasaan, ia tampak gemilang. Namun begitu terlepas, ia terjatuh—dan sering kali tak lagi mengenali dirinya sendiri. Lebih menyedihkan lagi, ada yang tak mampu kembali ke garis awal kehidupan, karena seluruh investasinya hanya ditanam di ladang politik.
Karena itu, setiap orang yang memilih terjun ke dunia publik semestinya memiliki titik mula yang kokoh—sebuah fondasi yang dibangun dari kerja keras, usaha, karya, dan integritas pribadi. Entah melalui dunia usaha, profesi, keilmuan, atau bidang pengabdian lain, fondasi itu adalah “rumah” tempat kita kembali. Ia adalah kendaraan pribadi yang kita siapkan dengan jerih payah sendiri, bukan kendaraan umum yang sewaktu-waktu bisa berpindah tangan.
Dengan fondasi yang kuat, seseorang tidak akan terbebani oleh cahaya jabatan. Ia bersinar bukan karena menumpang, melainkan karena memang memiliki nyala dari dalam. Politik menjadi alat untuk memperluas manfaat, bukan panggung untuk mempertahankan eksistensi. Dan ketika waktunya tiba untuk turun, ia melangkah dengan kepala tegak—tanpa rasa kehilangan yang melumpuhkan.
Hikmatnya sederhana namun dalam: jangan pernah membangun seluruh makna hidup di atas sesuatu yang bukan milik kita. Jabatan adalah milik publik. Kekuasaan adalah amanah. Kendaraan itu bisa kita kemudikan, tetapi bukan untuk kita simpan di garasi pribadi. Ia ada untuk digunakan seperlunya, dalam batas kepentingan bersama.
Pada akhirnya, yang menentukan apakah seseorang tetap bercahaya bukanlah kursi yang ia duduki, melainkan karakter dan karya yang ia bangun sebelum, selama, dan sesudah ia berkuasa. Jika bintang itu ditempa dari integritas dan kerja nyata, ia tidak akan redup ketika jabatan dilepas. Ia akan tetap menyala—tenang, mandiri, dan utuh—karena cahayanya lahir dari dalam, bukan dari sorot lampu kekuasaan.