30.1 C
Jakarta
BerandaBISNISBukan Cuma soal Pasar! Konflik Developer dan Pemilik Lahan Jadi Biang Kerok...

Bukan Cuma soal Pasar! Konflik Developer dan Pemilik Lahan Jadi Biang Kerok Proyek Perumahan Mangkrak

HIPNUSA Ungkap 7 Faktor Kritis yang Sering Dilupakan Sebelum Bangun Rumah

Mediaistana.com Jakarta – Sektor properti kerap dianggap sebagai ladang emas yang menjanjikan keuntungan besar. Namun di balik gemerlapnya bisnis ini, ternyata banyak pengembang yang harus menuai pil pahit dengan proyek perumahan yang terbengkalai dan tak kunjung dihuni. Ironisnya, penyebab utama kerap kali bukan karena lesunya pasar, melainkan konflik internal antara developer dengan pemilik lahan.

Akhir-akhir ini, fenomena perumahan mangkrak semakin marak terjadi. Konsumen kebingungan, developer sulit dihubungi, sementara pemilik lahan ikut menanggung beban kerugian. Padahal, di awal proyek, semua tampak meyakinkan: konsep menarik, lokasi strategis, dan skema kerja sama yang diklaim saling menguntungkan.

Aditya, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nusantara (HIPNUSA) yang juga aktif sebagai pelaku properti, dan pernah menjabat Ketua Umum DEPRINDO, membuka tabir kelam di balik kolaborasi yang kerap berujung konflik ini. Menurutnya, kerja sama lahan bukanlah jalan pintas menuju kesuksesan proyek.

“Banyak proyek terhenti bukan karena pasar, tapi karena kesalahan fundamental dalam perencanaan dan pengelolaan hubungan kerja sama sejak awal,” ujar Aditya kepada awak media, minggu (15/2).

HIPNUSA mencatat setidaknya ada 7 pola masalah yang berulang kali menjadi pemicu konflik:

1. Perjanjian Longgar – Kontrak kerja sama yang disusun tanpa detail dan celah hukum justru menjadi bom waktu.
2. Legalitas Lahan Bermasalah – Status lahan yang belum tuntas kerap menjadi ganjalan di tengah jalan.
3. Visi Berbeda– Developer ingin cepat untung, pemilik lahan ingin aman jangka panjang. Benturan pun tak terhindarkan.
4. Bagi Hasil Terlalu Optimistis – Hitung-hitungan yang tidak realistis membuat proyek kolaps di tengah jalan.
5. Perizinan Diremehkan – Akses lokasi dan dokumen izin yang dianggap sepele justru jadi penghambat utama.
6. Tak Punya Rencana Cadangan – Tidak ada skenario antisipasi jika kerja sama bermasalah.
7. Manajemen Terlalu Percaya Diri – Overconfidence membuat developer abai pada potensi risiko.

Repot di Awal, Aman di Tengah Jalan

Aditya menegaskan bahwa kunci utama menghindari proyek mangkrak adalah ketelitian sejak tahap paling awal.

“Lebih baik bersusah payah di tahap awal: pastikan legalitas tuntas, susun perjanjian secara detail, dan terbuka terhadap potensi risiko. Sebab, ketika proyek sudah berjalan dan melibatkan dana konsumen, kekeliruan kecil di awal dapat berkembang menjadi persoalan besar yang merugikan banyak pihak,” tegasnya.

HIPNUSA mengimbau para pengembang properti untuk tidak tergiur dengan skema kerja sama instan. Fondasi kerja sama yang kuat, transparansi, dan perhitungan matang adalah harga mati agar proyek perumahan tidak hanya terbangun, tetapi juga layak huni dan menguntungkan semua pihak.

(Red/Ilham)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!