JAKARTA, Mediaistana.com — Sepak bola kampung selama ini kerap dipandang sebelah mata,Namun di balik lapangan sederhana, sorak penonton, gengsi antarwilayah, hingga saweran pemain, tersimpan cerita tentang harga diri, keluarga, dan perjuangan hidup.
Semua itu coba dibongkar melalui film “Bapakmu Kiper”, karya sutradara Ody Harahap yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada 3 September 2026.
Film produksi Entelekey Media Indonesia dan Entelekey Sinema Indonesia (ESI) tersebut tidak menempatkan sepak bola sekadar sebagai tontonan pertandingan, Tarkam justru menjadi pintu masuk untuk mengisahkan hubungan ayah dan anak yang bertahun-tahun terputus oleh luka masa lalu.
Cerita berpusat pada Dino (Ali Fikry), pemuda 18 tahun yang menyimpan kemarahan terhadap ayahnya, Warto (Fedi Nuril). Bagi Dino, sosok sang ayah berkaitan erat dengan kematian ibunya,Luka tersebut membuat hubungan keduanya membeku dalam waktu yang panjang.
Kesempatan mengikuti Tarkam Super Cup kemudian mengubah arah kehidupan Dino, Turnamen itu bukan hanya menawarkan peluang menuju sepak bola profesional, tetapi juga menyeret kembali Warto ke dalam kehidupan anaknya.
Masalah semakin rumit ketika tim yang menjadi andalan Dino menjelang final justru diambil pihak lain, Dalam situasi terdesak, Warto memilih bergerak,Ia membangun tim baru dengan mengandalkan para pemain senior yang tidak lagi berada di puncak karier.
Dari titik inilah sepak bola berubah menjadi medan pertarungan yang jauh lebih besar, Bukan hanya soal siapa mencetak gol dan siapa mengangkat trofi, tetapi juga tentang bagaimana seorang ayah berusaha membuktikan bahwa dirinya masih memiliki arti bagi anak yang terlanjur kecewa.
Ody Harahap melihat dunia tarkam memiliki karakter yang kuat untuk difilmkan, Rivalitas antar-kampung, gengsi lokal, pemain profesional yang turun berlaga, sampai tradisi saweran menjadi warna yang membuat pertandingan akar rumput memiliki kehidupan tersendiri, “Tarkam itu bukan cuma pertandingan, Di dalamnya ada persaingan, hiburan, dan fenomena unik seperti saweran,” kata Ody.
Keunikan tersebut sekaligus menjadi modal bagi ESI ketika menjadikan “Bapakmu Kiper” sebagai produksi mandiri pertamanya,Direktur Utama ESI sekaligus produser film, Garnet Geraldine Tanja, menilai kehidupan tarkam memiliki kedekatan dengan keseharian masyarakat Indonesia.
Namun kekuatan film ini tidak berhenti pada atmosfer sepak bola kampung,Warto menjadi simbol sosok ayah yang tidak selalu terlihat sebagai pahlawan,Ia bukan pencetak gol yang menjadi pusat sorotan, melainkan seseorang yang berada di belakang layar ketika keluarga membutuhkan perlindungan.
Fedi Nuril menilai karakter Warto merepresentasikan banyak figur ayah dalam kehidupan nyata,“Tidak harus selalu mencetak gol, yang penting selalu ada untuk bertahan dan melindungi keluarganya,” ujar Fedi.
Sementara bagi Ali Fikry, perjalanan Dino memperlihatkan bahwa kemarahan yang dipelihara terlalu lama belum tentu menyelesaikan persoalan,“Memaafkan enggak akan selalu jadi proses yang mudah, tapi selalu layak untuk diusahakan,” kata Ali.
Dengan menjadikan tarkam sebagai panggung sekaligus menjadikan hubungan ayah-anak sebagai jantung cerita,“Bapakmu Kiper” menawarkan perspektif berbeda tentang sepak bola Indonesia.
Di lapangan, pemain berjuang memenangkan pertandingan,Di luar lapangan, Dino dan Warto menghadapi pertandingan yang jauh lebih sulit: berdamai dengan masa lalu.
Sebab pada akhirnya, film ini tidak hanya bertanya siapa yang menang di lapangan, tetapi juga siapa yang sanggup bertahan ketika keluarga hampir kehilangan harapan.