Oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.
Di tengah derasnya arus globalisasi ekonomi, langkah daerah untuk menembus pasar internasional bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Apa yang berlangsung di Batam pada pertengahan April ini menghadirkan satu pesan kuat: masa depan ekonomi daerah ditentukan oleh keberanian bertransformasi.
Kehadiran Bupati Buru Selatan, La Hamidi, dalam forum implementasi Pusat Promosi dan Investasi Daerah (PPID) bukan sekadar simbol keikutsertaan. Ia merepresentasikan semangat baru—bahwa daerah tidak boleh lagi terjebak dalam pola lama yang bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah semata. Bersama para kepala daerah lain di bawah naungan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia, terbentang kesadaran kolektif bahwa kompetisi kini bersifat global, dan daerah harus siap menjadi pemain aktif di dalamnya.
PPID, dalam konteks ini, bukan hanya sebuah program administratif. Ia adalah pintu masuk menuju paradigma baru pembangunan ekonomi: berbasis investasi, kolaborasi, dan ekspor berkelanjutan. Ketika Sarman Simanjorang menegaskan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap APBD, sesungguhnya yang sedang didorong adalah perubahan cara berpikir—dari konsumtif menjadi produktif, dari pasif menjadi proaktif.
Pemilihan Batam sebagai episentrum gerakan ini juga sarat makna. Sebagai kawasan perdagangan bebas, kota ini memiliki posisi strategis dalam peta perdagangan internasional. Di sinilah etalase potensi daerah dapat ditampilkan, bukan hanya kepada pasar domestik, tetapi langsung kepada investor dan pembeli global. Batam menjadi cermin bahwa akses terhadap dunia luar bukan lagi sesuatu yang jauh—ia sudah di depan mata, menunggu untuk dimanfaatkan dengan cerdas.
Lebih jauh, kolaborasi dengan International Business Association menunjukkan bahwa era kerja sendiri telah usai. Kemitraan lintas batas menjadi kunci, sementara skema seperti Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) membuka jalan percepatan yang selama ini kerap terhambat birokrasi dan keterbatasan modal.
Bagi Kabupaten Buru Selatan, momentum ini adalah titik tolak. Keikutsertaan aktif dalam forum tersebut mencerminkan kesiapan untuk beranjak dari pinggiran menuju panggung global. Tantangannya tentu tidak ringan—dibutuhkan kesiapan sumber daya, konsistensi kebijakan, serta keberanian mengambil risiko. Namun, peluang yang terbuka jauh lebih besar daripada ketakutan yang membayangi.
Editorial ini memandang bahwa inisiatif PPID bukan sekadar program jangka pendek, melainkan fondasi bagi kemandirian ekonomi daerah. Jika dijalankan dengan serius, transparan, dan berorientasi hasil, PPID dapat menjadi katalisator lahirnya sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, masa depan daerah tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang dimiliki, tetapi oleh seberapa luas jejaring yang dibangun dan seberapa berani terobosan yang diambil. Dari Batam, sebuah arah baru telah digariskan—dan kini, pilihan ada di tangan setiap daerah: tetap bertahan dalam zona nyaman, atau melangkah maju menjemput peluang global.