Oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.
Maluku adalah rumah bersama. Rumah yang dibangun dengan darah, air mata, doa, dan harapan banyak generasi. Karena itu, menjaga perdamaian bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral setiap orang basudara.
Kita pernah belajar dari sejarah—betapa mahal harga sebuah perpecahan. Konflik yang dulu terjadi di Ambon dan berbagai wilayah di Maluku meninggalkan luka yang tidak sedikit. Jangan biarkan luka itu terbuka kembali hanya karena kita lengah dan mudah terprovokasi.
Hari ini, isu-isu yang memecah belah persatuan kembali beredar. Isu SARA dimainkan, sentimen dibenturkan, perbedaan dibesar-besarkan. Semua itu sengaja dirancang untuk memancing emosi dan merusak kepercayaan antar sesama. Kita harus tegas menolak cara-cara seperti ini.
Jangan cepat marah karena kabar yang belum tentu benar. Jangan langsung percaya pada pesan berantai yang memecah belah. Jangan ikut menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya. Setiap jari yang menekan tombol “kirim” harus disertai tanggung jawab. Karena satu pesan provokatif bisa memicu perpecahan yang luas.
Perdamaian lahir dari kedewasaan. Dari kemampuan menahan diri. Dari kesadaran bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan. Kita semua terikat dalam satu semangat orang basudara—saling menghargai, saling melindungi, saling menjaga.
Mari baku jaga. Mari kuatkan persaudaraan. Jangan beri ruang bagi pihak-pihak yang ingin melihat Maluku terpecah. Jangan biarkan suara kebencian lebih keras daripada suara persatuan.
Maluku hanya akan tetap kuat jika kita berdiri bersama. Damai bukan datang dengan sendirinya—ia harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan setiap hari. Dan perjuangan itu dimulai dari diri kita masing-masing: menolak provokasi, menolak kebencian, dan memilih persaudaraan.