Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 Hijriah.
Bulan suci kembali menyapa kita—membawa sunyi yang menenangkan, jeda yang menyadarkan, serta panggilan untuk pulang kepada makna terdalam kehidupan. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah berhenti bergerak, puasa hadir sebagai ruang hening: tempat jiwa membersihkan diri, menata ulang arah, dan memperbarui niat.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan batin—sebuah latihan kejujuran pada diri sendiri, kesetiaan pada nilai, serta ketundukan yang tulus kepada Sang Pencipta. Dalam setiap fajar yang kita sambut dan setiap senja yang kita nantikan, tersimpan pelajaran tentang kesabaran, pengendalian diri, dan empati kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Di bulan yang penuh rahmat ini, kiranya kita tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga menemukan makna baru. Makna tentang syukur yang lebih dalam, tentang pengampunan yang lebih lapang, dan tentang cinta yang lebih nyata dalam tindakan. Semoga kesadaran kita diperbarui, pengertian kita diperdalam, dan hati kita disempurnakan dalam kasih yang sejati.
Puasa adalah undangan untuk menjadi manusia yang baru—lebih lembut dalam kata, lebih jernih dalam berpikir, dan lebih tulus dalam berbuat. Ia mengajarkan bahwa perubahan sejati selalu dimulai dari dalam, dari hati yang berani bercermin dan berserah.
Semoga Ramadan 1447 H menjadi momentum kebangkitan rohani bagi kita semua. Semoga setiap doa yang terangkat di keheningan malam menemukan jalannya menuju langit, dan setiap langkah kebaikan menjadi cahaya yang menuntun perjalanan hidup kita ke depan.
Taqabbalallahu minna wa minkum.