JAKARTA, Mediaistana.com — Misteri sebuah desa terpencil menjadi pintu masuk teror dalam film horor Bisikan Desa Gringsing, Film garapan penulis sekaligus sutradara Ivander Tedjasukmana tersebut membawa penonton mengikuti perjalanan Hesti yang diperankan Aghniny Haque, saat mencari sang ayah yang menghilang.
Namun pencarian itu justru menyeret Hesti ke dalam situasi yang jauh lebih mengerikan, Desa Gringsing ternyata menyimpan rahasia kelam,Warga seolah tidak memiliki jalan keluar karena diteror sosok Fatimah yang diperankan Fatmah Nahdi.

Setiap usaha Hesti untuk menemukan jawaban justru membuka misteri baru,Potongan kisah dari para penghuni desa perlahan mengarah pada masa lalu Hesti sendiri, sehingga perjalanan mencari sang ayah berubah menjadi pertarungan menghadapi teror sekaligus trauma.
Film produksi Mandela Pictures dan Oceanus Media Global (OMG Studios) ini juga membawa pendekatan berbeda dalam produksi film horor Indonesia, Sejumlah adegan dikerjakan menggunakan teknologi virtual production dengan LED volumetric stage yang menampilkan lingkungan digital secara real time, kemudian dipadukan dengan pengambilan gambar di real set.
Perpaduan tersebut digunakan untuk membangun atmosfer Desa Gringsing, mulai dari jalan berkabut, bangunan desa yang mengancam hingga berbagai kejadian supernatural, Tantangannya bukan sekadar menciptakan visual, tetapi memastikan dunia digital dan set nyata tetap terlihat sebagai satu lokasi yang utuh.
Selain Aghniny Haque dan Fatmah Nahdi, film ini turut menghadirkan Surya Saputra, Kiki Narendra, Iskak Khivano, Hesti Putri, Iyang Darmawan, Akun Gege, Swetajaloe, Nina Tamam, Mian Tiara, Nizar Umar, Azkya Mahira, Shaqueena Medina Lukman, serta Nazhira Rizka.
Kehadiran lagu “Perjalanan Menawar Racun” karya Kunto Aji turut menjadi bagian dari perjalanan emosional film tersebut.
Setelah menjalani special screening pada 12–13 September 2026, Bisikan Desa Gringsing dijadwalkan mulai menghantui layar bioskop Indonesia pada 24 September 2026,Film tersebut selanjutnya direncanakan menyambangi Malaysia, Singapura, Turki, dan Azerbaijan.
Kolaborasi Indonesia, Singapura, dan Malaysia dalam produksinya juga menjadi bagian penting dari film ini, Proses virtual production dilakukan di OMG Studios, Iskandar Malaysia Studios, Johor, Malaysia.
Kini, pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa sebenarnya yang menghantui Desa Gringsing, tetapi rahasia apa yang membuat Hesti semakin sulit keluar dari desa tersebut.