Oleh: Drs. Muz Latucosina, MF.
Di Pelabuhan Namlea, sebuah palang berdiri tegak. Ia bukan sekadar besi penghalang, tetapi simbol kewenangan. Sayangnya, di balik palang itu, kewenangan kerap berjalan tanpa jejak—seperti uang masuk yang diterima tanpa karcis, dan aturan yang diberlakukan tanpa kejelasan.
Petugas karcis dan palang seharusnya menjadi penjaga gerbang keteraturan. Namun yang terlihat di lapangan justru sebaliknya: karcis resmi seolah barang langka, hanya mitos yang diceritakan dari mulut ke mulut. Uang berpindah tangan, kendaraan melaju masuk, tetapi bukti administrasi entah ke mana perginya. Barangkali karcis itu terlalu berharga untuk dibagikan, atau mungkin dianggap tidak penting dalam sebuah sistem yang terbiasa berjalan tanpa pertanyaan.
Lebih menarik lagi, palang pelabuhan tampak memiliki “rasa”. Ia bisa terbuka untuk kendaraan tertentu, dan tertutup bagi yang lain, dengan alasan yang terdengar resmi namun mudah runtuh oleh fakta. Katanya, hanya kendaraan yang akan berangkat ke Ambon yang diizinkan masuk. Namun dermaga bercerita lain: kendaraan keluar masuk tanpa pernah berlayar. Palang pun seolah lupa pada alasan yang tadi ia jaga mati-matian.
Di sinilah publik mulai bertanya: apakah pelabuhan dikelola dengan prosedur, atau dengan perasaan? Apakah aturan berlaku untuk semua, atau hanya untuk mereka yang tidak dikenal? Ketika alasan petugas kalah oleh kenyataan di depan mata, kepercayaan publik pun ikut turun palang.
Editorial ini bukan untuk menghakimi, melainkan mengingatkan. Bahwa karcis bukan sekadar kertas kecil, ia adalah simbol transparansi. Bahwa palang bukan sekadar penghalang, ia adalah penanda keadilan. Dan bahwa seragam bukan sekadar atribut, ia adalah amanah.
Sudah saatnya otoritas pelabuhan menoleh ke pintu masuk itu—bukan hanya melihat palangnya terbuka atau tertutup, tetapi memastikan bahwa di sana masih ada aturan yang ditegakkan, administrasi yang dijalankan, dan nurani yang tidak ditinggalkan.
Karena pelabuhan adalah wajah pelayanan publik. Dan wajah itu, hari ini, tampak kusut oleh karcis yang tak pernah sampai ke tangan pemiliknya.(CS)