Mediaistana.com – Mengenang sejarah Menjelang akhir hayatnya pada tahun 2008, detik-detik terakhir hidupnya Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, lebih banyak dilalui dalam kondisi lemah di atas ranjang. Kesehatannya terus menurun akibat komplikasi penyakit, membuatnya harus bolak-balik menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Di tengah tubuh yang kian renta dan napas yang semakin berat, muncul momen yang begitu menggetarkan: Soeharto memanggil anak-anaknya untuk berkumpul. Bukan untuk membicarakan urusan politik, bukan pula soal kekuasaan melainkan untuk menyampaikan dua permintaan terakhir yang tak disangka-sangka, bahkan membuat keluarganya terkejut.
Permintaan Pertama: Soeharto Ingin Makan Pizza
Dalam kondisi sakit yang biasanya membuat seseorang kehilangan selera makan, Soeharto justru tiba-tiba menyampaikan keinginan yang cukup unik:
Ia ingin makan pizza.
Permintaan ini terasa tidak biasa. Karena selama sakit, Soeharto dikenal sulit makan dan nafsunya menurun. Namun kali itu, ia meminta agar keluarganya membawakan sekotak pizza.
Belakangan, permintaan itu ternyata bukan sekadar soal makanan. Ada makna hangat yang tersembunyi di baliknya.
Pizza tersebut diminta Soeharto untuk membuat perayaan kecil-kecilan dalam suasana keluarga, sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang untuk putrinya, Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) yang saat itu sedang berulang tahun.
Di momen itu, Soeharto tampak bahagia. Meski fisiknya melemah dan napasnya berat, ada senyum yang muncul senyum seorang ayah yang masih ingin memberi rasa bahagia di tengah situasi paling sulit.
Permintaan Kedua: Kasur Diputar Menghadap Kiblat
Setelah momen sederhana bersama keluarga itu, Soeharto menyampaikan permintaan lain yang jauh lebih dalam maknanya.
Ia meminta agar: kasurnya diputar menghadap kiblat.
Permintaan ini membuat keluarga kembali terdiam. Sebab dalam kondisi sakit, seseorang tetap bisa salat sambil berbaring, bahkan tanpa harus memaksakan posisi menghadap kiblat.
Namun Soeharto bersikeras. Ia ingin ranjangnya benar-benar diposisikan menghadap kiblat, karena ia berniat untuk menjalankan salat tahajud.
Bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah bentuk ikhtiar batinnseolah Soeharto sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan terakhirnya, dengan cara yang paling tenang: mendekat kepada Allah.
Akhir yang Penuh Simbol: Keluarga dan Kiblat
Dua permintaan terakhir Soeharto itu terasa sederhana, namun menyimpan makna yang besar:
✅ Berkumpul bersama keluarga dalam suasana hangat
✅ Menghadap kiblat sebagai bentuk penyerahan diri dan ibadah
Di ujung hayat, yang ia cari bukan lagi sorotan dunia, melainkan rasa kekeluargaan dan ketenangan spiritual. Dua hal yang menjadi penutup perjalanan panjang seorang tokoh besar dalam sejarah Indonesia.
#Soeharto
#DetikDetikTerakhir
#KisahTokohIndonesia
#SejarahIndonesia
#KeluargaCendana
#Tahajud
#2008.