Mediaistana.com JAKARTA – Sebuah insiden memalukan dan penuh teka-teki mengguncang Badan Gizi Nasional (BGN). Ketua Umum Forum Penulis dan Wartawan Indonesia (Forum PWI), Rukmana, S.Pd.I., C.PLA., mengaku menjadi korban **”prank” atau penipuan berkedok undangan resmi** dari seorang aparat kepolisian, yang menjerumuskannya dalam pencarian panjang yang berujung sia-sia ke kantor BGN.
Audiensi dengan Brigjen Soni BUBAR JALAN!
“Ada Modus Jalan Tikus dan Dugaan Suap Besar di Balik Program Makan Bergizi Gratis!”
Drama ini bermula dari panggilan telepon WhatsApp IPDA Eko pada Selasa (10/2/2026) pagi, yang mengundang Rukmana dan timnya untuk audiensi dengan Brigjen Pol. Soni, Wakil Kepala BGN, pukul 15.00 WIB. Undangan mendadak itu disambut serius. Rukmana dan tiga rekannya segera berangkat ke Jakarta Pusat, penuh harap akan membongkar skandal besar yang mereka duga menggerogoti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden.
“Kami datang untuk mengungkap dugaan MONOPOLI, SUAP, dan JALAN TIKUS di pendaftaran mitra BGN sehingga rakyat kecil tak kebagian. Ternyata, kami malah dikibuli!” tegas Rukmana dengan suara bergetar.
Sesampai di BGN, keanehan mulai terkuak. Resepsionis, Yazid, mengerutkan kening. “Wah, sampai saat ini tidak ada informasi kepada kami,” katanya. Agenda dengan pejabat tinggi itu ternyata TIDAK TERDAFTAR di sistem penerimaan tamu. Sebuah awal yang sangat mencurigakan.
Kekecewaan berubah menjadi kemarahan saat IPDA Eko, sang penghubung, menghilang. Telepon tidak diangkat, pesan WhatsApp hanya dibaca tanpa balasan. Situasi makin mencekam ketika salah satu anggota tim, Iwan, mengaku mendengar percakapan mengejutkan dari Eko dengan rekan di BGN : “Dari tadi wartawan telepon terus gua nggak angkat-angkat. Eh dia telepon Waka Badan, gua heran kok dia (wartawan) punya nomor Waka Badan.”
“Ini tindakan TIDAK TERPUJI dan sangat TIDAK PROFESIONAL. Apakah kami sengaja dijadikan BOLA-BOLA dalam permainan untuk menutupi sesuatu yang lebih besar?” tanya Rukmana.
Barulah pada pukul 17.00 WIB, Eko muncul dengan alasan klise: Wakil Kepala BGN masih rapat. Pesan yang disampaikan Eko dari Brigjen Soni justru semakin memantik pertanyaan: “Silakan laporkan saja ke aparat penegak hukum.”
“Apakah ini bentuk PELEPASAN TANGGUNGJAWAB? Mengapa BGN seolah tak mau transparan menjawab temuan kami?” sergah Rukmana. Ia lalu membeberkan fakta mengerikan yang mereka gali : Ada anggota Dewan dan anak pejabat yang menguasai 40 hingga 100 titik dapur MBG, sementara rakyat kecil daftar satu pun tak bisa!
“Di mana keadilan sosial? Program Presiden ini sudah SALAH SASARAN!” tandasnya.
Tim yang telah menunggu hingga pukul 20.00 WIB akhirnya pulang dengan tangan hampa dan segudang tanda tanya besar. Prank oleh oknum polisi ini hanyalah puncak gunung es.
PERTANYAAN BESAR YANG MENGGELAYUT :
1. Siapa sebenarnya dalang di balik “prank” audiensi palsu ini? Apakah upaya sistematis untuk MENGHALANGI investigasi Forum PWI?
2. Apa yang begitu ditakutkan sehingga BGN seolah menghindar dari pertemuan?. Benarkah ada MODUS JALAN TIKUS dan SUAP BESAR, dalam pendaftaran mitra MBG seperti yang diungkap Forum PWI?
3. Dimana peran Brigjen Pol. Soni? Mengapa hanya memberikan pesan melalui perantara untuk “melapor ke aparat”, bukan menerima langsung untuk klarifikasi?
4. Apakah Program Makan Bergizi Gratis Presiden sudah DIBAJAK oleh para politisi dan pejabat untuk mengeruk keuntungan?
Insiden ini bukan lagi sekadar salah komunikasi. Ini adalah, PENTAS DRAMA yang memperlihatkan potret buram dan lorong gelap di balik program nasional yang seharusnya menyentuh rakyat paling miskin. Forum PWI bersumpah akan terus mendesak audiensi dan mengusut tuntas dugaan praktik mafia dan korupsi di BGN hingga ke akar-akarnya.
Negara ini butuh jawaban. Rakyat menunggu keadilan. Ada APA sebenarnya di balik tembok BGN?
(Red/ilham)

