Dalam khutbahnya, Wakapolres Buru, H. Akmil Djapa, kembali mengingatkan kita pada pesan abadi yang termaktub dalam surah Al-‘Ashr: bahwa manusia pada hakikatnya berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Pesan ini bukan sekadar rangkaian ayat, tetapi cermin yang menyingkap kondisi manusia modern hari ini—terjebak dalam kesibukan dunia dan abai terhadap nilai waktu.
Kesibukan telah menjadi identitas yang dibanggakan, padahal sering kali justru menjauhkan manusia dari tujuan hidup yang sejati. Banyak di antara kita membiarkan waktu mengalir tanpa arah, seakan esok selalu tersedia dan usia tidak pernah berkurang. Dalam pandangan agama, sikap seperti ini adalah bentuk kerugian yang nyata. Bukan karena dunia itu terlarang, tetapi karena manusia lupa menata prioritas: memburu dunia hingga lalai dari akhirat, mengejar materi hingga melewatkan kesempatan berbuat kebaikan.
Ajaran untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran adalah mekanisme penyelamat manusia dari kerugian ini. Kebenaran menjaga arah hidup, sementara kesabaran menjaga konsistensi di tengah godaan dan hiruk-pikuk dunia. Dua hal ini hanya hidup bila umat saling menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Khutbah ini mengingatkan bahwa mengelola waktu bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi cerminan iman. Setiap detik adalah amanah, setiap menit memiliki konsekuensi, dan setiap kesempatan berbuat baik adalah nikmat yang bisa hilang bila tidak disyukuri.
Pada akhirnya, agama mengajari kita bahwa dunia boleh dikejar, tetapi jangan sampai membuat kita lupa menata jiwa. Karena manusia tidak pernah benar-benar kekurangan waktu—yang kurang adalah kesadaran untuk memanfaatkannya dengan bijak.(AS/RS)