Usaha Pengolahan Limbah Plastik di Indonesia Meningkat 40%, Banyak UMKM yang Berjaya Kembangkan Inovasi
Jakarta & Semarang, 21 Februari 2026 – Jumlah usaha pengolahan limbah plastik di Indonesia meningkat signifikan sebesar 40% dalam satu tahun terakhir, dari sekitar 2.300 unit pada awal 2025 menjadi lebih dari 3.200 unit hingga pertengahan Februari 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh kebijakan pemerintah dan minat masyarakat yang semakin tinggi terhadap produk ramah lingkungan.
UMKM Berinovasi Hasil Olahan Plastik Menarik Pasar
Di Kota Semarang, sebuah UMKM bernama “EcoPlast Nusantara” yang didirikan oleh tiga mahasiswa Universitas Diponegoro berhasil mengembangkan teknologi pengolahan plastik bekas menjadi bahan baku paving blok dan furnitur taman yang tahan lama. Produk mereka kini telah memasok kebutuhan beberapa kota di Jawa Tengah dan bahkan menerima pesanan dari luar negeri.
“Kita mengolah sekitar 2 ton plastik bekas setiap minggunya, yang sebagian besar berasal dari bank sampah masyarakat dan perusahaan mitra. Produk paving blok yang kami hasilkan memiliki kualitas sama dengan produk konvensional namun lebih ramah lingkungan,” ujar salah satu pendiri, Rizky Pratama (27).
Di Surakarta, usaha pengolahan plastik milik Bapak Slamet Riyadi (45) juga menunjukkan perkembangan pesat. Ia mengubah plastik kemasan makanan bekas menjadi benang sintetis yang digunakan untuk membuat tas dan karpet. Usahanya yang awalnya hanya beroperasi di garasi rumah kini telah memiliki 15 karyawan dan menjalin kerja sama dengan beberapa brand fashion lokal.
Dukungan Pemerintah Dorong Pertumbuhan Usaha
Kementerian Koperasi dan UMKM mencatat bahwa sekitar 60% usaha pengolahan limbah plastik mendapatkan bantuan berupa modal lunak, pelatihan teknologi, dan akses pasar melalui program pemerintah. Selain itu, kebijakan wajib daur ulang yang diterapkan pada perusahaan besar juga membuka peluang bagi usaha kecil untuk memasok bahan baku olahan plastik.
Kepala Badan Pengelola Sampah Nasional (BPSN), Ir. Siti Nurhayati, menyatakan bahwa pertumbuhan usaha ini menjadi bukti bahwa pengelolaan limbah plastik bukan hanya masalah lingkungan tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar. “Kita targetkan pada akhir tahun 2026, usaha pengolahan limbah plastik mampu menyerap sekitar 15% dari total limbah plastik yang dihasilkan nasional,” tambahnya.
Tantangan Mutu dan Pasar Masih Harus Diatasi
Meskipun berkembang pesat, sebagian pelaku usaha mengaku masih menghadapi tantangan terkait mutu hasil olahan yang konsisten dan pemasaran produk secara luas. Beberapa juga menginginkan dukungan lebih lanjut dalam hal perizinan dan akses ke teknologi pengolahan yang lebih modern dan efisien.