BerandaSENI & BUDAYAJelang Panen, Petani dusun Sumbersuko, Mejayan Gelar Methil Mbok Sri dan Rokat...

Jelang Panen, Petani dusun Sumbersuko, Mejayan Gelar Methil Mbok Sri dan Rokat sebagai Wujud Syukur

Madiun, media istana.com
– Aroma tanah basah berpadu dengan bulir-bulir padi yang mulai menguning. Suasana itu menjadi penanda dimulainya musim panen di Dusun Sumbersuko, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun.
Di tengah hamparan sawah, warga bersama Kelompok Tani Dewi Sri.

“kembali menghidupkan tradisi Methil Mbok Sri dan Rokat. Tradisi agraris yang sempat vakum tersebut digelar sebagai wujud syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama agar musim tanam berikutnya mendapat keberkahan.Prosesi digelar Minggu (9/8/2026)

sejak pukul 08.00 WIB.pagi Sejumlah petani, tokoh masyarakat, dan warga berkumpul di sebuah gubuk kecil di tengah area persawahan. Tikar digelar di jalan pematang sawah yang menjadi lokasi pelaksanaan tradisi.Beragam hidangan disiapkan sebagai bagian dari sesaji dan kenduri.

“Di antaranya, satu nasi buceng, serta berokan yang dilengkapi lauk-pauk khas Jawa seperti urap-urap, lalapan, sayur tewel, telur rebus, ikan teri, tahu, tempe, pisang raja, hingga ingkung ayam panggang satu ekor utuh.

Bagi masyarakat petani Sumbersuko, Methil menjadi penanda dimulainya panen padi. Sementara sosok Mbok Sri dipahami sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran.
Namun, penghormatan terhadap simbol tersebut tidak dimaknai sebagai bentuk pemujaan. Tradisi itu dipandang sebagai warisan budaya yang mengajarkan masyarakat untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi yang di berikan.

“Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Rokat atau doa bersama. Doa tersebut menjadi ikhtiar batin agar tanaman padi pada musim berikutnya,terhindar dari berbagai gangguan, mulai dari serangan hama, tikus, wereng, bencana alam, hingga persoalan lain yang berpotensi menurunkan hasil panen.

Doa bersama dipimpin tokoh agama setempat, Ustadz Muhammad Sajali. Ia
menyampaikan bahwa tradisi Methil dan Rokat bukan hanya berkaitan dengan panen, tetapi juga mengandung pesan sosial bagi para petani.Menurutnya, para petani perlu terus menjaga kekompakan, kejujuran, keterbukaan, dan keadilan dalam mengelola berbagai kebutuhan pertanian. Mulai urusan pupuk, pengairan, hingga penentuan masa tanam.

“Tradisi ini mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga hubungan harmonis dengan alam sekaligus mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. Hasil bumi bukan hanya buah kerja keras manusia, tetapi juga rahmat Allah yang harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai budaya dan ajaran agama dapat berjalan beriringan. Tradisi lokal, kata dia, justru bisa menjadi media untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan sesama.

“Sementara itu, salah seorang petani Sumbersuko, Suyetno, mengatakan produktivitas lahan pertanian di wilayah tersebut masih tergolong baik. Dalam setahun, petani bahkan dapat melakukan panen hingga tiga kali.“Dalam satu tahun bisa panen tiga kali. Mulai dari benih sampai panen sekitar empat bulan. Alhamdulillah, hasil tahun ini cukup baik,” ungkapnya.

Pelaksanaan tradisi ini juga,mendapat dukungan penuh dari. Kepala Dusun ( kamituwo ) Sumbersuko, Dodik Satrio Nugroho, mengapresiasi semangat warga,petani yang tetap menjaga warisan budaya.

Ketua Kelompok Tani Dewi Sri, Susanto, bersama bendahara kelompok, Priyanto, juga menyambut baik kembali digelarnya tradisi tersebut setelah sempat vakum.
Alhamdulillah, tradisi ini bisa digelar lagi. Terima kasih kepada seluruh warga yang telah bergotong royong. Semoga hasil panen semakin baik dan generasi muda tetap mau menjaga tradisi seperti ini,” kata Priyanto.

“Usai seluruh prosesi selesai, warga kemudian menikmati hidangan bersama di tengah hamparan sawah. Tidak ada sekat antara petani, tokoh masyarakat, maupun warga. Semua duduk bersama menikmati makanan yang telah disiapkan secara gotong royong.

Kesederhanaan tersebut justru menjadi gambaran kuat tentang masih hidupnya semangat kebersamaan di dusun Sumbersuko.
Di tengah derasnya arus modernisasi, kembalinya tradisi Methil Mbok Sri dan Rokat bukan sekadar upaya mempertahankan ritual panen.

Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas sosial, merawat identitas budaya, serta mengingatkan masyarakat bahwa sawah bukan semata tempat mencari nafkah.
Sawah juga menjadi ruang kehidupan yang, mempertemukan manusia, alam, budaya, dan semangat gotong royong dalam satu kebersamaan.(Tukiyo)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!