Kota Bogor, Jawa Barat || Mediaistana.com
Sungai Ciliwung yang menjadi salah satu ikon Kota Bogor kini menunjukkan kondisi memprihatinkan. Musim kemarau berkepanjangan membuat debit air terus menyusut hingga di sejumlah titik hanya menyisakan aliran kecil. Hamparan batu, lumpur, dan tumpukan sampah yang sebelumnya tertutup air kini terlihat jelas dan mulai mengeluarkan bau tidak sedap. Rabu, 05/08/2026.
Pantauan di beberapa titik aliran Sungai Ciliwung menunjukkan permukaan air turun drastis. Kondisi ini dipicu minimnya curah hujan selama lebih dari satu bulan terakhir, ditambah potensi pengaruh fenomena El Niño yang membuat musim kemarau tahun ini terasa lebih kering.
Surutnya air sungai tidak hanya mengubah wajah Ciliwung, tetapi juga memunculkan persoalan lingkungan. Sampah yang mengendap di dasar sungai kini terbuka ke permukaan, menimbulkan bau menyengat dan berpotensi mencemari lingkungan sekitar.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian warga masih memanfaatkan genangan air yang tersisa untuk mencuci pakaian dan kebutuhan sehari-hari. Padahal, air tersebut telah bercampur lumpur dan sampah sehingga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan apabila digunakan tanpa pengolahan yang memadai.
Selain mengancam kesehatan, terus menurunnya debit Sungai Ciliwung juga meningkatkan kekhawatiran akan krisis air bersih jika musim kemarau berlangsung lebih lama. Warga yang selama ini bergantung pada sumber air di sekitar sungai menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air, menghindari penggunaan air dari genangan sungai yang tercemar, serta menjaga kebersihan lingkungan dengan bergotong royong membersihkan sampah di sepanjang bantaran sungai. Kondisi Sungai Ciliwung saat ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.