Oleh: Muz Latuconsina
Di hadapan Danau Rana yang senyap dan tua oleh waktu, saya, Juwita, hanya ingin bersaksi apa adanya. Bukan untuk menggemparkan dunia, bukan pula untuk mengarang cerita bohong. Apa yang saya simpan hanyalah serpihan kisah, kenangan yang pernah singgah, lalu tinggal sebagai tanda tanya di hati.
Pada tahun 1991, saya pernah berbalas surat—hanya satu kali—dengan seorang bule bernama Robert Tymsra, seorang pria asal Canada. Di sini orang mengenalnya sebagai Robert, teman dari Bapak Mus Latuconsina. Karena saya belum pandai berbahasa Inggris, isi surat itu saya minta tolong almarhum Dokter Daddy Kamarullah untuk menerjemahkannya. Dari sanalah saya tahu, bahwa ada cerita-cerita tentang Danau Rana yang sampai juga ke negeri jauh.
Tentang kabar akan munculnya makhluk aneh yang kelak menggemparkan dunia—jujur saya tidak tahu, dan tidak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Soal itu, saya hanya bisa menggeleng pelan. Namun bila bicara tentang burung… mungkin kisah itu ada benarnya.
Burung langka.Burung yang cantik jelita.Burung yang kemunculannya tidak setiap waktu, seolah hanya menampakkan diri pada orang-orang tertentu, lalu lenyap kembali ke rahasia alam.
Danau Rana bukan sekadar hamparan air. Ia menyimpan sunyi, menyimpan cerita, dan mungkin juga menyimpan makhluk ciptaan Tuhan yang belum sepenuhnya kita pahami. Tidak semua yang tidak kita lihat adalah dusta, dan tidak semua yang terdengar menakjubkan harus dipercaya mentah-mentah.
Saya hanya bersaksi sejauh yang saya tahu.Selebihnya, biarlah alam dan waktu yang menjawab.
Wallahualam bissawab.