Media Istana, 27
Januari 2026.
Kota Tua Teluk Bayur di Kecamatan Teluk Bayur merupakan salah satu wilayah bersejarah yang menyimpan kisah panjang perkembangan industri dan perasaan di Kalimantan Timur, mulai dari kedatangan Belanda hingga berkembangnya komunitas pekerja Jawa yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari daerah ini.
Awal abad ke-18, Belanda memasuki wilayah Kesultanan Berau dengan kedok perdagangan melalui VOC, kemudian menerapkan politik yang menyebabkan Kesultanan terpecah. Pada tahun 1912, Belanda mendirikan perusahaan pertambangan batu bara bernama Steenkolen Maatschappij Para Patta ( SMP ) setelah menemukan cadangan sumber daya alam yang besar di Prapatan sekarang. Perusahaan ini menjadi tonggak awal Teluk Bayur berkembang sebagai pusat industri, dengan nama kawasan diambil dari bentuk geografisnya yang merupakan teluk dan unsur lokal bernama ” Bayur “, serta juga dikenal dengan sebutan ” Steinkollen ” terkait aktivitas pertambangannya.
Untuk mendukung operasional tambang, Belanda membanguninfrastruktur lengkap seperti pelabuhan, kereta api, pemukiman, taman kota, gedung bioskop dan fasilitas umum lainnya. Belanda juga membawa ribuan pekerja kontrak dari Jawa untuk memenuhi kebutuhan kerja. Meskipun jumlah pasti tidak tercatat secara rinci, para pekerja Jawa tersebut kemudian menetap, menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas yang besar hingga saat ini.
Pada tahun 1926, pekerja melakukan perlawanan terhadap eksploitasi yang terjadi dengan Sarekat Islam sebagai inisiator gerakan tersebut. SMP beroperasi hingga sekitar tahun 1954 sebelum ditutup dan menyebabkan sebagian besar orang Eropa meninggalkan Teluk Bayur dengan meninggalkan berbagai peninggalan sejarah seperti gedung kolonial, benteng tua, rel terowongan dan sumur tua.
Pada masa kini Kota Tua Teluk Bayur tengah mengalami perubahan. Pada Februari 2025, Pemkab Berau mengalokasikan anggaran Rp 70 M untuk meningkatkan infrastruktur jalan dan fasilitas dengan pembangunan gapura dan renovasi bioskop bersejarah. Kawasan ini juga telah terverifikasi sebagai desa wisata, dengan kegiatan seperti bazar jajanan jadul dan Parade Aksi dan Seni ( PARAS ) yang rutin digelar.
Peninggalan bersejarah seperti Benten Tua ( berlokasi di dalam kawasan kota tua ), sekitar koordinat 2.1395° N, 117.4014° E ) menjadi daya tarik utama bersama dengan spot lain seperti terowongan tua dan bangunan kolonial. Saat ini banyak keturunan pekerja Jawa yang bekerja sebagai pemandu wisata untuk menjaga dan memperkenalkan sejarah kawasan kepada pengunjung.
Secara harfiah Steenkolen dalam bahasa Belanda adalah Steenkolen ( bentuk jamak ) atau steenkool ( bentuk tunggal ). Steenkolen berarti batu bara. Steen ( batu ) kool ( arang/ bahan bakar padat sehingga bisa diartikan sebagai batu yang berfungsi sebagai bahan bakar. Steenkolen ( batu bara ) Maatschappij ( perusahaan ) perusahaan perseroan atau asosiasi. Para Pattan merupakan nama tempat atau wilayah di Kabupaten Berau. Dimana tambang bara tersebut berlokasi. Nama ini berasal dari bahasa lokal setempat. Secara keseluruhan, Steenkolen Maatschappij Para Pattan dapat diartikan sebagai ” Perusahaan Batu Bara Para Pattan “.
Media Istana menemui pengawas proyek bangunan kolonial, Yani. Menjelaskan bahwa sekarang ini lagi melakukan pekerjaan rehab bangunan sert mempercantik rel dan keretanya. ” Coba ambil foto di salah satu ruangan yang lagi di buat bagus “. Tunjuk Yani sambil membukakan pintu untuk di lihat Media Istana. Begitu juga saat mengambil gambar bangunan tua, Yani mempersilahkan.
Aroel Mandang