Oleh Muhamad Daniel Rigan
Menertibkan Gunung Botak di Kabupaten Buru sesungguhnya bukan perkara rumit. Pada akhirnya, persoalan itu selalu kembali pada dua hal yang paling mendasar: apakah niatnya benar namun strategi salah, atau strateginya tepat tetapi niatnya yang keliru. Dua poros sederhana yang menentukan masa depan sebuah tanah yang terus disesaki ambisi.
Gunung Botak tidak hanya menyimpan emas, tetapi juga menyimpan cermin—cermin yang memantulkan siapa sesungguhnya kita ketika berhadapan dengan kekuasaan, kepentingan, dan keberanian untuk melakukan yang benar. Di sanalah semua pihak diuji: pemerintah dengan kebijakannya, aparat dengan ketegasannya, dan masyarakat dengan kesadarannya.
Namun kebenaran, seperti biasa, sering bersembunyi. Ia tak selalu terdengar dari podium, tak selalu tampak di laporan resmi, dan tak selalu tersurat dalam janji-janji penertiban. Ada kalanya kebenaran justru berbisik dari tempat yang paling sunyi.
Maka, bila kita ragu menentukan apakah masalahnya terletak pada niat atau strategi, barangkali memang sudah saatnya bertanya pada sesuatu yang tak pernah berpihak pada siapa pun: rumput yang bergoyang, yang tiap hari menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi—tanpa kepentingan, tanpa pencitraan, tanpa agenda terselubung.
Di antara desir angin itu, mungkin kita akan menemukan jawaban yang tak kita dengar di ruang rapat: bahwa menertibkan Gunung Botak tidak akan pernah berhasil jika hati tidak tertib terlebih dahulu.
( Ahmad)