Editorial oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.
Dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Kabupaten Buru kian menghangat. Di tengah situasi tersebut, nama Jaidun Sa’anun mencuat sebagai salah satu figur yang siap mengambil peran strategis: menakhodai partai berlambang beringin di daerah itu.
Pernyataan kesiapan Jaidun untuk maju sebagai calon Ketua DPD bukan sekadar manuver politik biasa. Ia datang dengan bekal pengalaman panjang dan rekam jejak yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dua periode menjabat sebagai Sekretaris DPD (2010–2020) menjadi modal penting yang memberi legitimasi atas klaimnya untuk memimpin.
Namun, lebih dari sekadar pengalaman, yang menjadi sorotan adalah narasi yang ia bangun: konsolidasi total. Dalam konteks politik lokal, ini bukan jargon kosong. Golkar Buru, seperti banyak partai lain di daerah, menghadapi tantangan klasik berupa fragmentasi internal, lemahnya koordinasi lintas struktur, hingga menurunnya militansi kader di akar rumput.
Di sinilah tawaran Jaidun menemukan relevansinya. Ia menekankan pentingnya soliditas dari tingkat desa hingga kabupaten—sebuah pendekatan yang jika dijalankan secara konsisten, berpotensi menghidupkan kembali mesin politik partai.
Meski demikian, komitmennya membuka ruang kompetisi patut diapresiasi. Demokrasi internal partai sering kali menjadi formalitas belaka, namun pernyataan Jaidun yang mendorong kompetisi sehat memberi harapan bahwa Musda tidak sekadar ajang pengukuhan, melainkan benar-benar menjadi ruang adu gagasan dan visi.
Tetapi tantangan ke depan tidak ringan. Mengulang kejayaan masa lalu membutuhkan lebih dari sekadar nostalgia. Realitas politik terus berubah, dengan pemilih yang semakin rasional dan kompetisi yang kian ketat. Konsolidasi yang ia gaungkan harus diterjemahkan dalam strategi konkret: penguatan basis, kaderisasi berkelanjutan, serta kemampuan membaca peta politik lokal secara akurat.
Pada akhirnya, figur Jaidun Sa’anun akan diuji bukan hanya oleh rivalnya dalam Musda, tetapi oleh kemampuannya sendiri dalam menjawab ekspektasi besar yang ia bangun. Jika konsolidasi benar-benar mampu diwujudkan, maka peluang mengembalikan dominasi Partai Golkar di Kabupaten Buru bukanlah sesuatu yang mustahil.
Musda kali ini, dengan demikian, bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Ia adalah titik krusial: apakah Golkar Buru mampu bangkit dengan wajah baru, atau tetap terjebak dalam pola lama yang stagnan.