Editorial Redaksi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada dasarnya lahir dari niat mulia: memastikan setiap anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup agar tumbuh sehat, kuat, dan mampu belajar dengan lebih baik. Di tengah berbagai tantangan gizi yang masih dihadapi anak-anak Indonesia, program seperti ini seharusnya menjadi harapan besar bagi masa depan generasi muda.
Namun harapan itu tidak boleh berhenti pada konsep. Ia harus hadir dalam kualitas pelaksanaan yang nyata.
Sorotan yang disampaikan oleh anggota DPRD Kabupaten Buru dari Partai NasDem, Mochtar Ternate, terkait menu MBG di sekolah-sekolah di Namlea, Kabupaten Buru, patut menjadi perhatian serius. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa menu yang dibagikan pada hari-hari awal program masih jauh dari standar makanan bergizi yang layak bagi anak sekolah.
Di SD Al-Hilal 1 Namlea dan SMP Negeri 1 Namlea, misalnya, siswa menerima menu yang terdiri dari tahu setengah matang, potongan ayam kecil yang belum matang sempurna, buah pisang, dan kue pada hari pertama. Pada hari berikutnya, menu berubah menjadi kacang goreng dalam jumlah kecil, satu butir telur rebus, potongan kasbi goreng berukuran sangat kecil, serta beberapa buah kelengkeng.
Jika dilihat dari komposisi, kualitas, maupun kelayakan pengolahan makanan, menu tersebut jelas belum mencerminkan standar gizi seimbang yang seharusnya menjadi ruh dari program MBG. Lebih dari itu, makanan yang belum matang sempurna juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi siswa.
Kritik yang disampaikan Mochtar bukanlah bentuk penolakan terhadap program, melainkan pengingat bahwa niat baik harus diiringi dengan pelaksanaan yang berkualitas. Program yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan anak justru tidak boleh menghadirkan makanan yang kurang layak.
Di sinilah pentingnya pengawasan yang serius. Mulai dari kualitas bahan makanan, proses pengolahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah harus dipastikan memenuhi standar yang jelas. Program berskala publik seperti MBG membutuhkan sistem kontrol yang ketat agar tidak sekadar menjadi agenda seremonial.
Lebih dari sekadar pembagian makanan, MBG sesungguhnya adalah investasi bagi masa depan. Setiap piring yang diterima siswa seharusnya mengandung gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan, memperkuat daya tahan tubuh, dan meningkatkan konsentrasi belajar mereka.
Karena itu, evaluasi cepat dan perbaikan menyeluruh menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Pemerintah daerah, pihak sekolah, penyedia makanan, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan bahwa program ini benar-benar hadir dengan kualitas yang pantas bagi anak-anak.
Anak-anak Namlea berhak mendapatkan makanan yang tidak hanya gratis, tetapi juga sehat, aman, dan bergizi. Jika program ini dijalankan dengan standar yang tepat, maka MBG tidak sekadar menjadi program bantuan, melainkan fondasi bagi lahirnya generasi Buru yang lebih sehat, cerdas, dan kuat di masa depan.