Tuduhan yang gencar beredar di sejumlah media sosial dan opini publik bahwa Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, gagal mengendalikan inflasi di Kota Ambon sebagai tertinggi di Maluku merupakan kegagalan yang bertubi-tubi pada periode Natal dan Tahun Baru 2024–2025 perlu diluruskan berdasarkan data statistik resmi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat bahwa pada Desember 2024, Provinsi Maluku mengalami deflasi secara bulanan sebesar 0,41 %. Secara lebih luas, indeks harga konsumen menunjukkan deflasi di Kabupaten Maluku Tengah dan Kota Ambon masing-masing mencapai 0,50 % dan 0,41 % pada bulan tersebut, periode yang bertepatan dengan musim Natal dan Tahun Baru. Ini berarti harga secara agregat turun, bukan melonjak tajam seperti yang diklaim dalam narasi kritik tersebut.
Selain itu, inflasi tahunan (year-on-year) untuk Provinsi Maluku pada Desember 2024 tercatat 1,28 %, angka yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat inflasi nasional pada periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga di Maluku tidak berada pada level yang mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan rata-rata nasional.
Penting juga dicatat bahwa fluktuasi inflasi merupakan fenomena yang terjadi secara periodik dan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk kondisi pasar global, harga komoditas nasional, dan dinamika pasokan luar daerah. Menyederhanakan perubahan harga barang hanya sebagai kegagalan satu pemimpin daerah merupakan interpretasi yang simplistik dan tidak mempertimbangkan konteks statistik yang lebih luas.
Narasi yang menyebutkan bahwa Ambon mencatat inflasi tertinggi selama periode Natal–Tahun Baru 2024–2025 tanpa mengacu pada data resmi BPS/Bank Indonesia jelas keliru. Data resmi bahkan menunjukkan adanya deflasi bulanan di Ambon selama periode tersebut, yang justru mencerminkan keberhasilan pengendalian harga di tengah permintaan musiman.
Dengan demikian, tuduhan bahwa kebijakan ekonomi Gubernur Maluku “gagal bertubi-tubi” dalam menangani inflasi, khususnya pada masa Natal dan Tahun Baru, tidak didukung oleh fakta statistik yang dapat diverifikasi. Pengambilan keputusan dan strategi stabilisasi harga tetap berjalan efektif ketika dilihat dari indikator-indikator utama yang dirilis oleh lembaga statistik resmi.(Tim)