Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Nikmat bukanlah hadiah yang cukup dipahami dengan akal. Ia adalah pengalaman hidup yang hanya bisa dirasakan melalui perbuatan. Sebab apa yang tidak dikerjakan, tak akan pernah benar-benar kita nikmati.
Jika engkau ingin merasakan nikmat kejujuran, maka hiduplah dengan jujur.
Jika engkau ingin merasakan nikmat kasih dan sayang, maka berilah kasih kepada sesama.
Jika engkau ingin merasakan nikmat sholat, maka dirikanlah sholat dengan pengertian, bukan sekadar gerakan.
Jika engkau ingin merasakan nikmat kebenaran, maka berkatalah benar meski pahit terasa.
Dan jika engkau ingin merasakan nikmat perubahan, maka berjuanglah untuk berubah.
Sebaliknya, ketika manusia hanya ingin memahami tanpa mau melaksanakan, di situlah ia mulai bersandiwara. Pengetahuan berubah menjadi topeng—topeng yang dipakai untuk menutupi ego, ketakutan, dan kepentingan diri sendiri.
Iblis terbesar bukanlah sosok bertanduk, bukan makhluk yang keluar dari kuburan atau gentayangan di jalan sunyi. Iblis terbesar adalah ego kita sendiri. Dialah yang diam-diam mengendalikan hidup, membisikkan pembenaran, dan mengajak kita memahami segalanya tanpa pernah benar-benar mengerjakannya. Semua itu dibungkus rapi atas nama harga diri, kenyamanan, jabatan, harta, dan ketakutan akan hari esok.
Ego adalah monster buas yang hidup dalam zona nyaman.
Ia lahir dari ketakutan akan kehidupan,
dibesarkan oleh keserakahan,
dilindungi oleh kepentingan,
dan dimasyhurkan oleh kesombongan.
Buah dari ego itu nyata dan pahit:
-Perasaan selalu kurang
-Keserakahan
-Keinginan menang sendiri
-Menghalalkan segala cara
-Kepalsuan hidup
-Dendam
-Iri hati dan dengki
-Kesombongan
-Memilih posisi aman dan enggan merugi
-Rela mengorbankan orang lain demi diri sendiri
Inilah buah ego yang pernah saya pelajari—bahkan pernah saya hidupi. Dan satu hal yang saya sadari: ego tidak bisa diusir. Ia hanya bisa disadari.
Kesadaran itulah awal kebebasan. Karena saat kita melihat ego dengan jujur, di situlah manusia mulai kembali menjadi manusia.(cs.as)