Pendidikan Literasi dan Karakter: Menumbuhkan Generasi Berilmu, Berempati, dan Bertanggung Jawab

MEDIA ISTANA.COM

Oleh Novita Sari Yahya

Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Namun, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur berdasarkan gelar akademik, prestasi intelektual, atau kemampuan memperoleh keuntungan ekonomi. Pendidikan juga perlu mendorong pembentukan integritas, empati, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap kehidupan bermasyarakat.

Dalam beberapa kesempatan, saya berinteraksi dengan remaja dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik perguruan tinggi swasta dengan biaya pendidikan puluhan juta rupiah per semester maupun perguruan tinggi dengan biaya sekitar tiga juta rupiah per semester. Saya juga memperoleh pengalaman serupa ketika berinteraksi dengan mahasiswa perguruan tinggi negeri.

Berdasarkan pengalaman pribadi tersebut, saya melihat adanya kecenderungan pada sebagian anak muda untuk lebih menekankan keuntungan pribadi, kenyamanan hidup, dan gaya hidup glamor dibandingkan keterlibatan dalam persoalan sosial. Tentu saja, pengamatan ini terbatas pada pengalaman dan lingkungan interaksi saya. Hal tersebut tidak mewakili seluruh mahasiswa Indonesia dan tidak dapat dijadikan kesimpulan umum tanpa penelitian lebih lanjut.

Meski demikian, pengalaman tersebut menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana pendidikan formal telah berjalan seimbang dengan pembentukan karakter? Apakah keberhasilan akademik telah diiringi kemampuan memahami persoalan orang lain, menghargai perbedaan, dan mengambil tanggung jawab terhadap masyarakat?

Pertanyaan ini penting bukan untuk menghakimi generasi muda, melainkan untuk mendorong refleksi bersama mengenai tujuan pendidikan. Mahasiswa menghadapi beragam tantangan sosial dan ekonomi. Karena itu, pembentukan karakter perlu didukung oleh lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat, dan kebijakan publik yang memberikan ruang bagi tumbuhnya kepedulian sosial.

Pendidikan Tidak Cukup Berorientasi pada Prestasi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Pendidikan 2024, Tabel 5.6, menunjukkan bahwa sekitar 10,20% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas telah menamatkan pendidikan perguruan tinggi pada 2024. Data tersebut bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024.

Angka ini memberikan gambaran mengenai tingkat pendidikan penduduk Indonesia. Namun, capaian pendidikan formal tidak dapat digunakan secara langsung untuk mengukur kualitas karakter, empati, atau kepedulian sosial seseorang. Aspek-aspek tersebut membutuhkan indikator dan penelitian tersendiri.

Dengan demikian, tantangan pendidikan bukan hanya memperluas akses menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tetapi juga memastikan bahwa proses pembelajaran memberikan ruang bagi pengembangan etika, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

Perspektif tersebut sejalan dengan laporan UNESCO, Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education (2021). Laporan ini menekankan pentingnya pendekatan pendidikan yang berlandaskan kerja sama dan solidaritas, sehingga peserta didik mampu belajar bersama, menghargai perbedaan, dan berkontribusi bagi masa depan bersama.

Pendidikan, dengan demikian, tidak seharusnya hanya dipahami sebagai jalan untuk mencapai keberhasilan individual. Pendidikan juga perlu membantu manusia memahami bahwa ilmu pengetahuan, keterampilan, dan keberhasilan pribadi dapat digunakan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Tiga Program untuk Memperkuat Literasi dan Karakter

Atas dasar pemikiran tersebut, saya mengusulkan tiga program yang berorientasi pada pengembangan literasi, pendidikan keluarga, dan kepedulian sosial.

Pertama, penerjemahan tiga antologi puisi ke dalam bahasa Rusia dan Inggris.

Sastra dapat menjadi ruang untuk merefleksikan pengalaman manusia, memahami beragam sudut pandang, serta mengembangkan kepekaan emosional. Melalui penerjemahan tiga antologi puisi karya saya ke dalam bahasa Rusia dan Inggris, saya berharap karya sastra Indonesia dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.

Program ini juga diharapkan membuka peluang dialog lintas budaya antara Indonesia dan negara lain, termasuk Rusia. Untuk mencapai tujuan tersebut, penerjemahan perlu disertai penyuntingan yang memadai, distribusi yang tepat, dan evaluasi terhadap jangkauan pembaca.

Kedua, pengembangan perpustakaan keliling.

Akses terhadap buku dan bahan bacaan merupakan bagian penting dari upaya memperluas kesempatan belajar. Namun, tidak semua lingkungan memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai atau akses yang mudah terhadap bahan bacaan berkualitas.

Perpustakaan keliling diharapkan dapat mendekatkan buku kepada anak-anak dan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan fasilitas literasi. Selain menyediakan bacaan, program ini dapat dikembangkan melalui kegiatan membaca bersama, diskusi, pengenalan sastra, dan aktivitas kreatif.

Keberhasilan program perlu dinilai berdasarkan jangkauan layanan, jumlah dan keragaman bahan bacaan, keterlibatan peserta, serta perkembangan kebiasaan membaca dari waktu ke waktu.

Ketiga, program pengasuhan anak dan pendidikan keluarga.

Keluarga merupakan salah satu lingkungan penting dalam pembentukan kebiasaan, nilai, disiplin, dan kepedulian sosial. Karena itu, pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah atau perguruan tinggi.

Melalui materi edukasi dan kegiatan pembelajaran berbasis komunitas, program pengasuhan anak dan pendidikan keluarga diharapkan membantu orang tua mengembangkan praktik pengasuhan yang positif, membangun komunikasi yang sehat dengan anak, serta menumbuhkan budaya membaca di rumah.

Program ini juga dapat menjadi ruang berbagi pengalaman bagi keluarga dalam menghadapi tantangan pendidikan anak. Materi dan pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta dievaluasi agar manfaatnya dapat diketahui secara lebih objektif.

Ketiga program tersebut memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi berangkat dari tujuan yang saling berkaitan: memperluas akses pengetahuan, membangun kebiasaan literasi, dan mendorong penggunaan pengetahuan untuk kepentingan bersama.

Mengembangkan Gagasan Menjadi Program Nyata

Dalam upaya mengembangkan program-program tersebut, saya telah mengirimkan permintaan informasi kepada Presidential Grants Foundation di Rusia terkait kompetisi hibah internasional untuk mendukung proyek sosial yang diselenggarakan pada 2026. Saya menerima tanggapan awal melalui email mengenai kompetisi tersebut.

Saat ini, saya masih menghadapi kendala dalam melengkapi dokumen persyaratan karena proses administrasi menggunakan bahasa Rusia. Saya berharap proposal yang diajukan dapat dipelajari dan dipertimbangkan lebih lanjut sesuai dengan ketentuan kompetisi.

Pengajuan proposal merupakan tahap awal dalam proses pengembangan program. Realisasi kegiatan tetap bergantung pada pemenuhan persyaratan administrasi, penilaian penyelenggara, ketersediaan pendanaan, dan keputusan resmi pihak terkait.

Bagi saya, upaya mengembangkan program literasi tidak berhenti pada penulisan gagasan atau pengajuan proposal. Program perlu dirancang dengan tujuan yang jelas, sasaran penerima manfaat yang terukur, pengelolaan yang transparan, dan evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan pendekatan tersebut, gagasan sosial memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi kegiatan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Membangun Generasi yang Berpengetahuan dan Berempati

Pendidikan yang bermakna bukan hanya menghasilkan manusia yang cerdas, berprestasi, dan berhasil secara ekonomi. Pendidikan juga perlu membuka kesempatan bagi setiap orang untuk mengembangkan integritas, memahami persoalan di sekitarnya, dan bertanggung jawab atas dampak tindakannya terhadap orang lain.

Tentu saja, empati dan tanggung jawab sosial tidak tumbuh melalui pendidikan formal semata. Keduanya juga dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan pergaulan, pengalaman hidup, keteladanan, serta kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan sosial.

Karena itu, penguatan literasi perlu berjalan bersama pembentukan karakter. Buku dapat membuka wawasan, sastra dapat menghadirkan refleksi tentang pengalaman manusia, perpustakaan keliling dapat memperluas akses pengetahuan, dan pendidikan keluarga dapat mendukung tumbuhnya kebiasaan positif sejak dini.

Melalui penerjemahan karya sastra, pengembangan perpustakaan keliling, dan pendidikan keluarga, saya berharap dapat mengambil bagian dalam upaya membangun masyarakat yang lebih literat, peduli, dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya terletak pada seberapa tinggi seseorang mencapai prestasi, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya digunakan secara bijaksana untuk memperbaiki kehidupan bersama.

—

Daftar Referensi

Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Pendidikan 2024. Jakarta: BPS. Tabel 5.6, “Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Karakteristik Demografi dan Jenjang Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, 2024.” Data bersumber dari Susenas Maret 2024. https://www.bps.go.id

UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education. Paris: UNESCO. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000379707

Presidential Grants Foundation. (2026). International Grant Competition to Support Socially Significant Projects. Informasi kompetisi dan korespondensi awal sebagaimana diterima penulis melalui email.

Reporter.Aristono

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!