Editorial Redaksi
Di ruang publik kita hari ini, ada fenomena yang menggelitik sekaligus memprihatinkan: segelintir orang yang tiba-tiba menjelma menjadi “pengamat.” Ada pengamat politik, pengamat kebijakan publik, bahkan pengamat segala hal—lahir bukan dari proses keilmuan, melainkan dari kekecewaan yang tak kunjung sembuh.
Akar persoalannya sederhana: jagoan politik mereka tumbang di gelanggang pilkada. Kekalahan yang seharusnya diterima dengan kedewasaan justru diolah menjadi amarah, lalu disalurkan lewat narasi kebencian kepada pemerintahan yang sah, khususnya kepada gubernur Hendrik Lewerissa. Sejak itu, setiap kebijakan dibaca dengan kacamata dendam, setiap langkah dimaknai sebagai kesalahan, dan setiap keberhasilan diabaikan seolah tak pernah ada.
Yang lebih ironis, mereka datang membawa klaim besar: atas nama masyarakat Maluku. Masyarakat Maluku yang mana? Apakah masyarakat Maluku adalah satu suara, satu pikiran, satu rasa? Ataukah nama besar itu sekadar tameng untuk melegitimasi opini pribadi yang rapuh?
Kritik, dalam demokrasi, adalah kebutuhan. Namun kritik menuntut prasyarat: data, nalar, dan itikad baik. Tanpa itu, kritik berubah rupa menjadi cercaan; tanpa metodologi, analisis menjadi asumsi; tanpa kejujuran intelektual, pengamatan menjelma agitasi. Mengaku sebagai pengamat tanpa landasan keilmuan yang jelas bukanlah keberanian, melainkan kemalasan berpikir yang dibungkus retorika.
Mereka berbicara lantang, tetapi miskin rujukan. Menuding keras, namun absen angka. Menggugat kebijakan, tetapi tak pernah menunjukkan alternatif. Yang tersisa hanyalah kalimat-kalimat emosional, berulang, dan penuh prasangka—kebencian yang disulap menjadi “kritik.”
Masyarakat Maluku tidak membutuhkan pengamat dadakan yang berteriak paling keras. Yang dibutuhkan adalah suara jernih, kritik berkelas, dan keberanian untuk adil: mengakui yang salah tanpa menutup mata pada yang benar. Demokrasi bukan panggung pelampiasan luka politik, melainkan ruang adu gagasan yang bertanggung jawab.
Jika kritik tak sanggup berdiri di atas data, maka ia bukan lagi kritik. Ia hanyalah gema kekalahan yang enggan mengaku kalah.