24.7 C
Jakarta
BerandaInfo"Pengamat Dadakan dan Kebencian yang Menyamar Jadi Kritik”

“Pengamat Dadakan dan Kebencian yang Menyamar Jadi Kritik”

Editorial Redaksi

Di ruang publik kita hari ini, ada fenomena yang menggelitik sekaligus memprihatinkan: segelintir orang yang tiba-tiba menjelma menjadi “pengamat.” Ada pengamat politik, pengamat kebijakan publik, bahkan pengamat segala hal—lahir bukan dari proses keilmuan, melainkan dari kekecewaan yang tak kunjung sembuh.

Akar persoalannya sederhana: jagoan politik mereka tumbang di gelanggang pilkada. Kekalahan yang seharusnya diterima dengan kedewasaan justru diolah menjadi amarah, lalu disalurkan lewat narasi kebencian kepada pemerintahan yang sah, khususnya kepada gubernur Hendrik Lewerissa. Sejak itu, setiap kebijakan dibaca dengan kacamata dendam, setiap langkah dimaknai sebagai kesalahan, dan setiap keberhasilan diabaikan seolah tak pernah ada.

Yang lebih ironis, mereka datang membawa klaim besar: atas nama masyarakat Maluku. Masyarakat Maluku yang mana? Apakah masyarakat Maluku adalah satu suara, satu pikiran, satu rasa? Ataukah nama besar itu sekadar tameng untuk melegitimasi opini pribadi yang rapuh?

Kritik, dalam demokrasi, adalah kebutuhan. Namun kritik menuntut prasyarat: data, nalar, dan itikad baik. Tanpa itu, kritik berubah rupa menjadi cercaan; tanpa metodologi, analisis menjadi asumsi; tanpa kejujuran intelektual, pengamatan menjelma agitasi. Mengaku sebagai pengamat tanpa landasan keilmuan yang jelas bukanlah keberanian, melainkan kemalasan berpikir yang dibungkus retorika.

Mereka berbicara lantang, tetapi miskin rujukan. Menuding keras, namun absen angka. Menggugat kebijakan, tetapi tak pernah menunjukkan alternatif. Yang tersisa hanyalah kalimat-kalimat emosional, berulang, dan penuh prasangka—kebencian yang disulap menjadi “kritik.”

Masyarakat Maluku tidak membutuhkan pengamat dadakan yang berteriak paling keras. Yang dibutuhkan adalah suara jernih, kritik berkelas, dan keberanian untuk adil: mengakui yang salah tanpa menutup mata pada yang benar. Demokrasi bukan panggung pelampiasan luka politik, melainkan ruang adu gagasan yang bertanggung jawab.

Jika kritik tak sanggup berdiri di atas data, maka ia bukan lagi kritik. Ia hanyalah gema kekalahan yang enggan mengaku kalah.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!