Oleh: Muhamad Daniel Rigan
Segala urusan besar selalu berawal dari kesetiaan pada perkara-perkara kecil. Dari sanalah manusia ditempa—belajar, jatuh, bangkit, lalu bertumbuh. Sebab kepercayaan dalam perkara besar tidak pernah lahir dari ambisi, melainkan dari kesetiaan yang sunyi dan konsisten. Kami percaya, siapa yang setia dalam hal kecil, akan layak dipercaya dalam hal yang lebih besar.
Berbagi, bagi kami, bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ia telah menjadi bagian dari napas kehidupan. Namun justru karena terlalu biasa, sering kali maknanya tidak dipahami. Ketika berbagi hanya dilakukan karena kebiasaan, ia bisa kehilangan kesadarannya—bahkan berubah menjadi kebodohan yang tidak lagi melahirkan pengenalan diri.
Padahal memberi dan berbagi bukan sekadar soal jumlah, bukan pula tentang siapa yang melihat. Memberi adalah cara Tuhan mengejar manusia-Nya agar kembali mengenal siapa dirinya yang sejati. Di sanalah rahasia itu bekerja. Jika memberi hanya menjadi rutinitas, maka manusia gagal bercermin; gagal mengenali hati dan niatnya sendiri.
Inilah yang tampak dalam langkah-langkah Kebaikan yang kami lakukan tidak berisik, tidak sibuk menghitung, dan tidak mencari pembenaran. Ada kesadaran bahwa memberi bukan untuk dicatat manusia, melainkan untuk membentuk batin. Bukan untuk dipuji, melainkan untuk diuji—apakah hati masih jujur, apakah niat masih lurus.
Sebab ketika manusia kembali kepada-Nya, tidak ada pertanyaan tentang berapa banyak yang telah dibagikan, atau kepada siapa harta itu diberikan. Yang akan ditanyakan adalah kebenaran di balik rahasia itu:
Apakah engkau memberi karena mengenal Aku, atau karena ingin dikenal?
Di titik inilah berbagi menemukan maknanya yang paling murni—sebagai jalan pulang. Jalan untuk mengenal Tuhan, sekaligus mengenal diri sendiri. (Cs/As)