24.7 C
Jakarta
BerandaInfoPuasa, Seni Membebaskan Diri Ketika Jiwa Lebih Lapar dari Tubuh

Puasa, Seni Membebaskan Diri Ketika Jiwa Lebih Lapar dari Tubuh

Oleh: Muhamad Daniel Rigan

Mengapa manusia masih berpuasa?
Karena manusia masih lapar.

Bukan hanya lapar pada roti, nasi dan air, tetapi lapar pada makna. Lapar pada ketenangan. Lapar pada kebenaran yang tak bisa dibeli, tak bisa ditukar, tak bisa dipamerkan.

Sebagian orang menjalani puasa seperti murid yang sedang diuji. Wajahnya tegang, hatinya cemas. Ia takut salah, takut batal, takut tidak lulus. Waktu dihitung detik demi detik, seakan azan adalah garis akhir perlombaan. Puasa menjadi beban yang harus ditanggung, bukan kesadaran yang dipeluk.

Sebagian lagi menjalaninya sebagai transaksi. Ia menahan lapar demi pahala, bersabar demi ganjaran. Hubungannya dengan Tuhan terasa seperti perhitungan untung dan rugi. Seolah-olah kebaikan adalah investasi, dan ibadah adalah akad yang menunggu imbal balik.

Namun ada puasa yang lebih sunyi dan lebih indah.

Puasa yang lahir dari kesadaran.

Kesadaran bahwa akulah yang membutuhkan puasa itu. Bukan Tuhan yang memerlukan laparku, tetapi jiwaku yang memerlukan penjernihan. Aku berpuasa karena aku ingin bebas—bebas dari diriku sendiri yang selalu ingin lebih, selalu ingin menang, selalu ingin memiliki.

Dalam kesadaran itu, lapar berubah menjadi guru.

Ketika aku lapar, aku belajar memberi—bahkan dari kekuranganku.
Ketika aku lapar, aku belajar berbagi—tanpa menunggu cukup.
Ketika aku lapar, aku belajar menahan amarah—karena egoku sedang dilatih untuk diam.
Ketika aku lapar, aku belajar mengampuni—sebab aku pun penuh kelemahan.
Ketika aku lapar, aku belajar melayani—tanpa merasa lebih tinggi.
Ketika aku lapar, tanganku menjauh dari korupsi, lisanku menjauh dari dusta, dan hatiku menjauh dari keserakahan.

Tubuh boleh lemah, tetapi jiwa justru menemukan kekuatannya.

Ada kebahagiaan yang aneh namun nyata ketika kita mampu tersenyum di tengah lapar. Ada kemerdekaan yang tak bisa direnggut siapa pun ketika kita tidak lagi dikuasai oleh nafsu kita sendiri. Di situlah puasa menjadi cahaya—ia menerangi ruang-ruang gelap dalam diri yang selama ini kita abaikan.

Ramadan bukan sekadar bulan menahan diri. Ia adalah bulan pembebasan. Pembebasan dari ketergantungan pada dunia yang gemerlap namun hampa. Pembebasan dari ketakutan akan penilaian manusia. Pembebasan dari anggapan bahwa Tuhan harus dibayar dengan ritual dan dihitung dengan angka.

Seseorang yang telah merdeka tidak lagi berpuasa karena takut diuji.
Ia tidak lagi menghitung amal untuk membebaskan dirinya.
Ia berpuasa karena sadar—dan dalam kesadaran itu, ia telah menemukan kebebasan.

Maka jika suatu hari kita bertanya, masihkah orang merdeka memerlukan ujian?

Barangkali tidak.

Karena ia telah menjadikan lapar sebagai jalan pulang.
Ia telah menjadikan kekurangan sebagai kelimpahan.
Ia telah menjadikan Ramadan bukan sekadar bulan, tetapi keadaan jiwa.

Dan ketika tubuhnya lemah, kebahagiaannya justru meliputi segalanya.

Sebab ia tahu: manusia berpuasa bukan karena dipaksa, bukan karena takut, bukan karena ingin menukar ibadah dengan imbalan.

Manusia berpuasa karena ia masih lapar—
dan dalam lapar yang disadari, ia menemukan dirinya yang paling merdeka.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!