JAKARTA, Mediaistana.com — Kepulangan bukan selalu tentang menemukan rumah, Bagi Pertiwi, pulang justru menjadi pintu untuk membuka kembali luka, kenangan, dan bagian hidup yang selama puluhan tahun berusaha ditinggalkan.
Gagasan itulah yang menjadi salah satu daya tarik film “Empat Musim Pertiwi”, karya terbaru sutradara Kamila Andini yang kini resmi memperkenalkan trailer dan poster perdananya kepada publik.
Film produksi Forka Films tersebut membawa Putri Marino sebagai Pertiwi, perempuan yang kembali ke tanah kelahirannya setelah lama pergi,Namun kepulangannya tidak berjalan sederhana, Ia harus berhadapan dengan orang-orang dari masa lalu sekaligus menghadapi kembali berbagai pengalaman yang membentuk dirinya.
Trailer yang telah dirilis memperlihatkan film dengan pendekatan visual yang tidak biasa, Kamila tidak hanya mengandalkan drama keluarga, tetapi meramu berbagai pendekatan genre, termasuk elemen fiksi ilmiah, untuk memperluas cara cerita Pertiwi disampaikan kepada penonton.

Bagi Kamila, pendekatan tersebut bukan sekadar eksperimen artistik, Unsur sci-fi justru digunakan untuk membawa persoalan personal Pertiwi menjadi pengalaman yang lebih universal.
Menariknya, gagasan film ini ternyata telah dikembangkan sejak 2017, Artinya perjalanan “Empat Musim Pertiwi” dimulai jauh sebelum Kamila menggarap sejumlah karya yang kemudian memperkuat namanya di perfilman Indonesia.
Putri Marino pun sejak awal telah dipersiapkan untuk menjadi Pertiwi, Tantangan terbesar berada pada bagaimana menghadirkan karakter perempuan yang mengalami perubahan besar dalam perjalanan hidupnya.
Pendalaman karakter bahkan membawa Putri pada referensi novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi untuk membantu memahami kondisi batin Pertiwi.
Skala produksinya juga bukan main-main, Pengambilan gambar dilakukan pada 2025 dan hampir seluruh proses syuting berlangsung di kawasan Bromo, dengan lokasi yang mencakup permukiman, persawahan hingga kawasan berpasir.
Medan produksi tersebut membuat kebutuhan logistik menjadi tantangan tersendiri, Ditambah proses pascaproduksi yang membutuhkan detail visual dalam jumlah besar, Forka Films menyebut film ini sebagai proyek terbesar mereka sejauh ini.
Ambisi tersebut kini dibawa ke panggung perfilman internasional,“Empat Musim Pertiwi” atau “Four Seasons in Java” dijadwalkan menjalani world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 pada September, Kehadiran film ini sekaligus menjadi momentum kembalinya Kamila Andini ke TIFF setelah “Yuni” meraih Platform Prize pada 2021.
Perjalanan internasional film ini berlanjut ke Busan International Film Festival (BIFF) 2026, Film tersebut masuk program A Window On Asian Cinema, yang menjadi salah satu ruang bagi karya sinema Asia dengan daya tarik internasional.
Yang menarik, perjalanan festival itu tidak membuat penonton Indonesia harus menunggu terlalu lama,“Empat Musim Pertiwi” dijadwalkan hadir di bioskop nasional mulai 8 Oktober 2026, berdekatan dengan rangkaian pemutaran internasionalnya.
Film ini juga menjadi reuni sejumlah nama dari “Gadis Kretek”, antara lain Kamila Andini, produser Ifa Isfansyah, Putri Marino dan Arya Saloka.
Deretan pemain lainnya turut menghadirkan nama besar seperti Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha dan Totos Rasiti.
Kehadiran Dwika Pradnyana, aktor dengan vitiligo, serta Hanna Aretha, aktor tuli, turut memperlihatkan upaya film ini menghadirkan representasi keberagaman di layar.
Tidak berhenti di dalam negeri, “Empat Musim Pertiwi” juga dibangun melalui kolaborasi produksi enam negara, yakni Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi dan Polandia.
Forka Films menggandeng sejumlah mitra, termasuk Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle dan Navvaros, Sementara distribusi internasional dipercayakan kepada Goodfellas, perusahaan international sales agent asal Prancis yang memiliki rekam jejak menangani film-film auteur di festival dunia.
Dengan perjalanan tersebut, “Empat Musim Pertiwi” tidak sekadar diposisikan sebagai film baru Kamila Andini,Film ini datang membawa ambisi lebih besar: mempertemukan kisah personal seorang perempuan dengan bahasa sinema yang mampu berbicara kepada penonton lintas negara.
Kini pertanyaannya tinggal satu: ketika Pertiwi akhirnya pulang, apakah ia benar-benar menemukan rumah—atau justru dipaksa menghadapi dirinya sendiri?
Jawabannya akan mulai terbuka di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026.