26.2 C
Jakarta
BerandaInfoRamadhan: Jalan Sunyi Menuju Transformasi Diri

Ramadhan: Jalan Sunyi Menuju Transformasi Diri

Oleh: Abubakar Karepesina, SE.
(Dir Politik Anak Muda Indonesia Maluku)

Ramadhan selalu datang membawa cahaya—bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah, melainkan panggilan batin untuk kembali kepada fitrah. Ia hadir sebagai ruang sunyi di tengah hiruk-pikuk dunia, sebagai jeda yang mengajak manusia menengok ke dalam dirinya sendiri: sejauh mana hati telah dijaga, sejauh mana jiwa telah dirawat.

Bulan suci ini adalah momen emas untuk melakukan tazkiyatun nafs—penyucian jiwa dari debu-debu dosa dan penyakit hati yang kerap tak terlihat. Di tengah rutinitas yang melelahkan, Ramadhan mengajarkan kita bahwa kemenangan sejati bukanlah tentang mengalahkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri. Menahan lapar dan dahaga hanyalah pintu masuk; di baliknya ada latihan kesabaran, pembelajaran keikhlasan, dan proses panjang menundukkan ego yang sering kali menjadi sumber segala kegelisahan.

Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sekolah kehidupan. Di dalamnya, kita belajar bahwa sabar bukan berarti lemah, melainkan bentuk kekuatan paling hakiki. Kita belajar bahwa memberi tidak akan mengurangi, justru melapangkan. Kita belajar bahwa doa yang dipanjatkan dengan air mata keinsafan mampu melembutkan hati yang paling keras sekalipun.

Di bulan ini, setiap sujud terasa lebih khusyuk, setiap ayat suci menggema lebih dalam, dan setiap kebaikan dilipatgandakan balasannya. Ada suasana spiritual yang mengikat umat dalam kebersamaan: berbuka dengan sederhana, berbagi dengan tulus, serta memperbanyak amal saleh demi meraih ridha Allah SWT. Ramadhan membangun jembatan empati—menghadirkan kesadaran bahwa di luar sana ada saudara-saudara yang setiap hari menahan lapar bukan karena pilihan, melainkan karena keadaan.

Transformasi diri yang ditawarkan Ramadhan bukanlah perubahan instan yang selesai dalam tiga puluh hari. Ia adalah proses pembentukan karakter. Dari pribadi yang biasa, kita ditempa menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Dari hati yang mudah gelisah, kita dilatih menjadi lebih sabar. Dari sikap yang acuh, kita didorong menjadi lebih peduli terhadap sesama.

Ramadhan adalah kesempatan. Kesempatan untuk memperbaiki yang retak, meluruskan yang bengkok, dan menumbuhkan kembali harapan yang sempat redup. Ia mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki peluang untuk memulai kembali—dengan hati yang lebih bersih, niat yang lebih lurus, dan langkah yang lebih teguh.

Semoga Ramadhan tidak hanya kita lalui, tetapi benar-benar kita hayati. Semoga ia menjadi jalan transformasi diri—mengantar kita dari kegelapan menuju cahaya, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari kebiasaan biasa menuju kemuliaan yang diridhai-Nya.

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!