Oleh: Muz Latuconsina
Di jantung Pulau Buru, jauh sebelum kamera dunia menoleh, Danau Rana telah lama diam—tenang, dalam, dan seolah menyimpan rahasia yang hanya bisa dibaca oleh waktu.
Tahun 2026 disebut-sebut sebagai tahun perubahan.
Bukan karena gedung tinggi, bukan pula karena jalan besar, melainkan karena sesuatu yang muncul dari sunyi.
Konon, satu makhluk langka—yang selama ini hanya hidup dalam cerita para tetua dan bisik para pemandu—menampakkan jejaknya. Bukan di tengah danau, tetapi mendekat ke sebuah desa. Cukup dekat untuk membuat manusia kembali percaya bahwa alam belum sepenuhnya membuka semua rahasianya.
Desa kecil itu gempar. Bukan oleh ketakutan, melainkan oleh keheranan. Berita menyebar lebih cepat dari angin gunung.
Danau Rana yang selama puluhan tahun hanya dikenal oleh segelintir pencinta alam, tiba-tiba disebut-sebut oleh dunia.
Tiga puluh tahun lalu, saat aku masih menjadi pemandu wisata, seorang turis asing menatap danau ini lama sekali. Lalu ia berkata pelan, seolah berbicara pada air:
“Thirty five years from now, this place wil be sought after by people from around world (Tiga puluh lima tahun lagi, tempat ini akan diburu manusia dari seluruh dunia).”
Aku hanya tersenyum saat itu. Kini, kata-kata itu kembali mengetuk ingatan. Apakah ini kebetulan? Ataukah alam memang selalu memberi tanda—jauh sebelum manusia siap mendengarnya?
Danau Rana bukan sekadar tujuan wisata.Ia adalah pengingat: bahwa keindahan sejati tidak pernah berteriak, dan misteri terbesar tidak pernah terburu-buru terungkap.
Jika benar tahun 2026 menjadi awal ketenarannya, semoga dunia datang dengan rasa hormat,bukan dengan keserakahan.
Percaya atau tidak,kita akan melihatnya nanti. Karena waktu, selalu tahu cara membuktikan cerita.