Editorial Redaksi
Subḥānallāh…
Mahasuci Allah yang menenun takdir dengan benang-benang yang tak selalu lembut di mata manusia.
Tak satu pun peristiwa hadir tanpa izin-Nya. Bahkan luka pun tidak jatuh sembarangan. Ia datang membawa pesan, meski sering disampaikan dengan bahasa yang pahit. Di balik penjemputan paksa terhadap Ruslan Arif Soamole, ketua Koperasi Tanila Baru, Allah memperlihatkan bagaimana rahmat-Nya kadang turun melalui cara yang membuat dada sesak dan air mata tertahan.
Ruslan adalah wajah kelelahan seorang hamba yang digiring ujian tanpa jeda. Hari-harinya dipenuhi tekanan, sorotan, dan tudingan. Ia berjalan tertatih di lorong sempit bernama prasangka. Tubuhnya melemah, jiwanya letih, tetapi ia memilih diam—bukan karena kalah, melainkan karena tak semua luka layak dipamerkan.
Ia sering mengeluh sakit. Namun dunia terlalu sibuk menghakimi untuk mau mendengar. Sakitnya dianggap drama, kelemahannya dicurigai sebagai siasat. Betapa mudahnya manusia menuduh, betapa beratnya menjadi yang dituduh.
Tak seorang pun tahu bahwa di balik tubuh yang kian rapuh, ada waktu yang sedang berdetak cepat menuju batas terakhir.
Hingga pagi itu tiba.
Ketika pintu rumah diketuk oleh aparat penegak hukum—bukan untuk menemukan perlawanan, bukan pula kelicikan—melainkan seorang lelaki yang terbaring tak berdaya, dengan infus menggantung seperti saksi bisu antara hidup dan maut.
Di momen itu, batas antara kewajiban dan kemanusiaan melebur. Ruslan tidak dibawa ke ruang interogasi, melainkan ke ruang penyelamatan. Ambulans melaju. Sirene meraung. Dan Allah—tanpa suara—sedang bekerja.
Pukul sembilan pagi, Rumah Sakit Namlea menjadi saksi. Tubuh Ruslan diperiksa, satu demi satu, hingga kebenaran yang lama tersembunyi itu terkuak: usus buntu dan hernia—dua penyakit yang diam-diam menggerogoti, menunggu waktu untuk merenggut nyawa.
Karena fasilitas terbatas, ia harus segera dirujuk ke Ambon. Di sana, kata-kata dokter jatuh seperti palu ke hati siapa pun yang pernah berprasangka:
“Bapak ini sangat beruntung datang tepat waktu. Terlambat beberapa jam saja, risikonya bisa fatal.”
Subḥānallāh…
Betapa tipis jarak antara hidup dan kematian. Betapa Allah menunda maut dengan cara yang tak pernah kita duga. Operasi usus buntu berjalan selamat, namun ujian belum sepenuhnya usai. Hernia yang diidap Ruslan masih mengintai—penyakit yang, menurut dokter, tak boleh ditunda.
Di titik ini, nurani kita seharusnya bertanya lirih: Jika tidak ada penjemputan itu, apakah ia akan sampai ke rumah sakit tepat waktu?Jika tidak ada tekanan yang menyakitkan itu, apakah nyawanya masih terselamatkan?
Barangkali inilah rahasia takdir. Bahwa tidak semua yang tampak kejam benar-benar buruk. Bahwa tidak semua tangan yang menggenggam erat berniat mencelakakan. Bisa jadi, mereka hanyalah perantara—alat yang digerakkan Allah untuk menjaga satu nyawa tetap bernapas.
Allah menyelamatkan dengan cara-Nya sendiri. Kadang melalui pintu yang kita benci. Kadang lewat jalan yang kita anggap zalim. Namun di ujungnya, rahmat-Nya tetap menemukan hamba yang Dia kehendaki.
Maka berhentilah tergesa mengutuk takdir.Sebab sering kali, ujian adalah pelukan yang menyamar,dan kesempitan adalah lorong menuju hidup yang masih diberi waktu.Subḥānallāh, Mahasuci Allah.Di balik luka, Dia menanam harapan.Di balik tangis, Dia menyimpan keselamatan.(AS)