Catatan Jumat Berkah 20 Februari 2026
Pagi itu, pasar Namlea kembali menjadi ruang belajar kehidupan.
Seperti biasa, sebelum amanah sebagai anggota DPRD ini melekat di pundak saya, langkah saya tetap sama — menyusuri lorong pasar, menyapa pedagang, membeli ikan, merasakan denyut nadi rakyat dari dekat.
Namun pagi ini berbeda.
Seorang Nenek Rongo-rongo (sebutan untuk buruh panggul perempuan) menyapa dengan suara yang lembut namun penuh harap.
Di wajahnya tergurat usia, di pundaknya tergantung semangat yang tak pernah renta.
“Bapa Dewan… beta rongo-rongo barang Bapa jua… beta belum dapat apa-apa hari ini.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menggema panjang di hati saya.
Saya katakan, belanja saya tak banyak — hanya ikan, tak seberapa berat untuk dipikul.
Namun beliau menjawab dengan senyum yang tak kehilangan cahaya:
“Biar sedikit, yang penting beta ada dapat rezeki hari ini.”
Subhanallah…
Di usia senja, ketika banyak orang memilih beristirahat, beliau memilih berjuang.
Bukan meminta, bukan mengeluh — hanya menawarkan tenaga dengan penuh martabat.
Di balik langkahnya yang pelan, ada tekad yang teguh.
Di balik tubuh yang renta, ada jiwa yang kuat.
Beliau mengajarkan bahwa rezeki bukan soal besar kecilnya, tetapi tentang keberkahan dari usaha yang tulus.
Sebagai wakil rakyat, hati saya teringat kembali pada alasan awal mengabdi:
bahwa politik seharusnya berpihak pada mereka yang bekerja dalam diam,
pada para pejuang nafkah di pasar-pasar sederhana,
pada tangan-tangan tua yang tetap menggenggam harapan.
Semoga Allah SWT menjaga kesehatan Nenek Rongo-rongo.
Semoga setiap langkahnya menjadi saksi keteguhan.
Dan semoga setiap rezeki yang kita beri dan terima hari ini,
menjadi berkah yang berlipat ganda.