Mediaistana.com || Kota Bogor, Jabar
Kinerja tim pemasaran atau sales yang seharusnya menjadi ujung tombak penjualan justru menjadi titik lemah bagi sejumlah developer perumahan. Kondisi ini berdampak langsung pada tingginya biaya operasional yang tidak sebanding dengan pemasukan, sehingga memicu kerugian yang terus membesar. Kamis, 02/04/2026.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri properti di wilayah Bogor dan sekitarnya menghadapi tantangan serius. Salah satu faktor krusial yang kerap diabaikan adalah menurunnya produktivitas tim sales. Padahal, peran mereka sangat vital dalam mengonversi minat pasar menjadi transaksi nyata.
Sejumlah pengamat menilai, lemahnya performa sales disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kurangnya pelatihan, minimnya strategi pemasaran digital, hingga rendahnya insentif yang berdampak pada motivasi kerja. Akibatnya, target penjualan tidak tercapai, sementara biaya tetap seperti gaji, promosi, dan operasional kantor terus berjalan.
“Banyak developer masih mengandalkan metode penjualan konvensional tanpa adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen yang kini lebih digital,” ujar seorang praktisi properti di Bogor.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya beban biaya promosi, seperti iklan, pameran properti, hingga komisi sales yang tetap harus dibayarkan meski penjualan stagnan. Di sisi lain, cicilan proyek dan kewajiban kepada kontraktor tetap berjalan, membuat arus kas developer semakin tertekan.
Secara umum, kegagalan developer bukan semata karena pasar yang lesu, tetapi juga karena ketidaksiapan internal, terutama pada lini sales. Tanpa strategi pemasaran yang adaptif dan tim yang kompeten, biaya operasional akan terus membengkak tanpa hasil yang signifikan. Untuk bertahan, developer dituntut melakukan transformasi, baik dari sisi manajemen pemasaran, digitalisasi, hingga efisiensi biaya agar tetap kompetitif di tengah persaingan yang ketat.