27.8 C
Jakarta
BerandaInfoSatu Raja untuk Kaiely, Satu Arah bagi Masa Depan

Satu Raja untuk Kaiely, Satu Arah bagi Masa Depan

Oleh: Muz Latuconsina

Dualisme Raja Petuanan Kaiely bukan sekadar persoalan gelar adat, melainkan cermin kegamangan arah kepemimpinan yang berlarut-larut. Ketika dua nama—Fandy Ashari Wael dan Abdullah Wael—sama-sama mengklaim mahkota adat, yang terbelah bukan hanya legitimasi, tetapi juga wibawa nilai-nilai leluhur yang selama ini menjadi penopang harmoni petuanan Kaiely.

Sikap tegas Bupati Buru, Ikram Umasugi, patut dibaca sebagai alarm keras bagi semua pihak. “Raja itu satu, bukan dua,” ujarnya dalam rapat resmi di Kantor Bupati. Pernyataan ini bukan ancaman kosong, melainkan ajakan serius untuk kembali pada akar adat yang menjunjung kejelasan, musyawarah, dan martabat. Pemerintah daerah, dengan mandat publik yang diembannya, membutuhkan satu suara yang sah untuk mewakili petuanan—bukan dua klaim yang saling meniadakan.

Editorial ini berpandangan bahwa konflik berkepanjangan hanya akan menggerus kepercayaan sosial dan menghambat urusan yang lebih luas: pemerintahan yang efektif, investasi yang sehat, serta pengelolaan sumber daya alam yang adil—termasuk terkait koperasi pemegang Izin Pertambangan Rakyat. Ketika adat terpecah, kebijakan tersendat; ketika legitimasi kabur, kepastian hukum ikut memudar.

Ultimatum pemerintah—tidak mengundang pihak yang masih berkonflik dalam rapat resmi—harus dipahami sebagai dorongan untuk segera berbenah, bukan pengucilan. Jalan keluar telah ditunjukkan: duduk bersama, membuka kembali silsilah, menegakkan mekanisme adat, dan menetapkan satu raja dengan legitimasi kuat secara adat dan sosial. Ini bukan soal menang atau kalah, melainkan tentang keberanian menempatkan masa depan Kaiely di atas ego dan klaim sepihak.

Adat, sejatinya, hadir untuk mempersatukan. Jika ia berubah menjadi sumber konflik, maka yang perlu diselamatkan bukan hanya gelar, tetapi makna. Kaiely membutuhkan satu raja, satu kepemimpinan adat yang diakui, agar langkah ke depan menjadi tegap dan searah. Di titik inilah semua pihak diuji: memilih kebesaran hati demi martabat bersama, atau membiarkan perpecahan terus menggerogoti warisan leluhur.(Syam.AS)

Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read
Berita Terkait

MOHON DIBACA SEBELUM MENULIS BERITA

Berikut ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat menulis Berita :

- Perhatikan hukum:

Pastikan informasi yang Anda bagikan legal dan tidak mendukung ujaran kebencian, diskriminasi, kekerasan, atau aktivitas berbahaya lainnya.

 

- Hargai privasi:

Jangan bagikan informasi pribadi tentang orang lain tanpa persetujuan mereka. Ini termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan detail sensitif lainnya.

 

- Pertimbangkan

dampaknya: Pikirkan tentang bagaimana kata-kata Anda dapat memengaruhi orang lain. Meskipun sesuatu secara teknis legal, itu mungkin menyakitkan atau menyinggung.

 

- Verifikasi informasi:

Sebelum membagikan informasi, terutama berita atau rumor, pastikan itu berasal dari sumber yang dapat dipercaya.

 

- Bertanggung jawab: Bertanggung jawablah atas informasi yang Anda bagikan. Bersiaplah untuk menjelaskan alasan Anda dan bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang mungkin terjadi.

Ingat, membangun komunitas daring yang aman dan saling menghormati adalah tanggung jawab semua orang. Mari kita gunakan kebebasan berekspresi kita dengan bijak!