Oleh: Muz Latuconsina
Dualisme Raja Petuanan Kaiely bukan sekadar persoalan gelar adat, melainkan cermin kegamangan arah kepemimpinan yang berlarut-larut. Ketika dua nama—Fandy Ashari Wael dan Abdullah Wael—sama-sama mengklaim mahkota adat, yang terbelah bukan hanya legitimasi, tetapi juga wibawa nilai-nilai leluhur yang selama ini menjadi penopang harmoni petuanan Kaiely.
Sikap tegas Bupati Buru, Ikram Umasugi, patut dibaca sebagai alarm keras bagi semua pihak. “Raja itu satu, bukan dua,” ujarnya dalam rapat resmi di Kantor Bupati. Pernyataan ini bukan ancaman kosong, melainkan ajakan serius untuk kembali pada akar adat yang menjunjung kejelasan, musyawarah, dan martabat. Pemerintah daerah, dengan mandat publik yang diembannya, membutuhkan satu suara yang sah untuk mewakili petuanan—bukan dua klaim yang saling meniadakan.
Editorial ini berpandangan bahwa konflik berkepanjangan hanya akan menggerus kepercayaan sosial dan menghambat urusan yang lebih luas: pemerintahan yang efektif, investasi yang sehat, serta pengelolaan sumber daya alam yang adil—termasuk terkait koperasi pemegang Izin Pertambangan Rakyat. Ketika adat terpecah, kebijakan tersendat; ketika legitimasi kabur, kepastian hukum ikut memudar.
Ultimatum pemerintah—tidak mengundang pihak yang masih berkonflik dalam rapat resmi—harus dipahami sebagai dorongan untuk segera berbenah, bukan pengucilan. Jalan keluar telah ditunjukkan: duduk bersama, membuka kembali silsilah, menegakkan mekanisme adat, dan menetapkan satu raja dengan legitimasi kuat secara adat dan sosial. Ini bukan soal menang atau kalah, melainkan tentang keberanian menempatkan masa depan Kaiely di atas ego dan klaim sepihak.
Adat, sejatinya, hadir untuk mempersatukan. Jika ia berubah menjadi sumber konflik, maka yang perlu diselamatkan bukan hanya gelar, tetapi makna. Kaiely membutuhkan satu raja, satu kepemimpinan adat yang diakui, agar langkah ke depan menjadi tegap dan searah. Di titik inilah semua pihak diuji: memilih kebesaran hati demi martabat bersama, atau membiarkan perpecahan terus menggerogoti warisan leluhur.(Syam.AS)